RW di Surabaya Minta Maaf Gunakan Istilah Nonpribumi dalam Surat Edaran

Amir Baihaqi - detikNews
Rabu, 22 Jan 2020 10:40 WIB
Ketua RW 03 Kelurahan Bangkingan, Paran/Foto: Amir Baihaqi

"Makanya kemarin karena ada pendatang sama warga asli karena di sini kan kebanyakan orang-orang desa kulturnya itu ya bilang pribumi nonpribumi. Nah itu kemarin redaksinya kita memang salah mencantumkan itu," lanjutnya.

Surat edaran yang menarik iuran bagi warga, menurut Paran, merupakan hal wajar di Surabaya. Meski begitu, tarikan iuran yang dilakukan tarifnya relatif sesuai aturan masing-masing RT dan RW.

"Saya kira itu semua di Surabaya baik itu RT RW itu punya aturan sendiri-sendiri tentang iuran," sambungnya.


Ditanya untuk apa iuran tersebut, Paran menyebut iuran dari warga itu dipakai untuk mengadakan berbagai kegiatan tahunan warga. "Soal iuran itu untuk kegiatan rutinan setiap tahun, misal sedekah bumi, pentas 17 Agustusan dan itu kita ambil dari swadaya masyarakat. Bahkan untuk kegiatan kemarin saja kita menghabiskan sekitar Rp 60 juta," terangnya.

Paran juga menegaskan bahwa selama ini iuran kepada warga baik pribumi dan nonpribumi sudah berjalan dengan baik. Dan tidak ada keluhan atau protes dari warga. "Nggak ada biasa saja nggak ada keluhan warga soal iuran selama ini. Cuma ketepatan di RW 03 viral akhirnya jadi ramai. Alasannya itu tadi dikatakan diskriminatif dan lain-lain. Padahal tidak," terangnya.

"Selama ini juga kita tarik iuran sama dengan yang ada di surat edaran yang viral itu. Nggak ada biasa aja," pungkasnya.
selanjutnya
Halaman

(sun/bdh)