Disidang Kasus Pencabulan 7 Siswa, Kasek SMP di Surabaya Bantah Dakwaan

Amir Baihaqi - detikNews
Rabu, 11 Des 2019 21:27 WIB
Terdakwa menjalani sidang (Foto: Amir Baihaqi)
Terdakwa menjalani sidang (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya - Sidang dakwaan kasus pencabulan kepala SMP swasta terhadap 7 muridnya dengan terdakwa Ali Shodiqin digelar. Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus tersebut bermula saat dilakukan pemeriksaan psikologi terhadap sejumlah murid.

"Berawal dari pemeriksaan psikolog di sekolah pada tanggal 9 Mei. Dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui ada 2 anak yang juga menjadi korban pencabulan," kata JPU Novan Ariyanto saat membacakan dakwaan di ruang Tirta Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (11/12/2019).

"Selanjutnya pada tanggal 10 Mei dilakukan pemeriksaan 20 anak lagi dan diketahui ditemukan 1 anak lagi yang diduga menjadi korban pencabulan," tambah Novan.

Tak hanya melakukan pencabulan, terdakwa juga diketahui melakukan ancaman dan kekerasan fisik saat kegiatan belajar mengajar kepada sejumlah muridnya. Akibatnya sejumlah muridnya mengalami trauma dan ketakutan saat bertemu dengan terdakwa.


"Bahwa perbuatan tersebut dilakukan kepala sekolah sekaligus guru korban sehingga secara otomatis menimbulkan ketakutan serta menganggap harus menuruti kemauan terdakwa," terang Novan.

Atas perbuatan tersebut, JPU Novan mendakwa terdakwa Ali Shodiqin dengan pasal berlapis. Yakni melanggar Pasal 80 Jo Pasal 76 C UU dan Pasal 82 Jo Pasal 76 E Tentang Perlindungan Anak dan melanggar Pasal 28 ayat (1) Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Selama persidangan sendiri, terdakwa tampak mendapat pendampingan hukum dari Diskum Lantamal TNI AL. Usai pembacaan dakwaanya, terdakwa melalui kuasa hukumnya mengaku akan mengajukan eksepsi.

Sementara itu, terdakwa mengaku membantah semua dakwaan yang ditujukan kepada dirinya. Untuk itu, ia akan membuktikan pada sidang dengan agenda eksepsi mendatang.

"Semuanya bohong, peristiwa itu tidak pernah ada. Nanti aja akan dijelaskan di eksepsi," pungkasnya usai persidangan.

Terpisah, salah satu orang tua korban Wulansari berharap terdakwa dihukum setimpal dengan perbuatannya. Sebab, dengan hukuman itu akan memberikan efek jera kepada terdakwa.


"Untuk memberikan efek jera pada terdakwa. Kalau anak saya menjadi korban penganiayaan," harap Wulansari.

Sebelumnya, seorang kepala sekolah SMP swasta, AS (40), di Surabaya mencabuli siswanya. Total ada enam murid yang mengaku telah mendapatkan pelecehan seksual.

Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Festo Ari Permana mengatakan awalnya pihaknya mendapat pengaduan dari masyarakat pada 8 April. Pihaknya langsung melakukan penyidikan dan ada enam murid yang mengaku mendapat pelecehan seksual.

"Berawal dari pengaduan masyarakat 8 April tentang penganiayaan dan pencabulan anak di bawah umur," kata Festo saat rilis di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Jumat (5/7/2019). (iwd/iwd)