Alat Ciptaan Dosen di Madiun Ini Bisa untuk Mitigasi Bencana Geologi

Sugeng Harianto - detikNews
Senin, 02 Des 2019 13:34 WIB
Viot di kawah Gunung Kelud/Foto: Istimewa

Nur menyampaikan, riset itu mendapat bantuan dana dari pemerintah Australia. Yang salah satu tujuannya untuk mendukung alumni dan memanfaatkan pengetahuan dan keahliannya demi kepentingan masyarakat banyak.

"Untuk riset ini didanai oleh Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme (Skema Dana Hibah Alumni) yang diadministrasikan oleh Australia Award in Indonesia (AAI). Proyek hibah ini diberikan kepada alumni yang pernah studi di Australia untuk melaksanakan proyek spesifik sesuai dengan tujuan dari skema hibah alumni," lanjutnya.

"AAI memberikan pagu dana hibah sampai dengan 10.000 Dolar Australia atau sekitar Rp 100 juta. Selain itu, AAI juga memberikan beasiswa untuk masyarakat Indonesia untuk melanjutkan jenjang pendidikan S2 dan S3 serta beasiswa short course (studi singkat) ke Australia setiap tahunnya," imbuhnya.


Para peneliti Viot terdiri atas Nur Asyik sebagai ketua tim, Dirvi Eko Juliando dan Rahmad Gusta dari Dosen Teknik Komputer Kontrol. Kemudian Ardian Prima Atmaja (Dosen Teknik Informasi) dan Kholis Nur Faizin (Dosen Mesin Otomotif). Serta Yohan Intan Kusuma dan Ardi Catur Kurniawan sebagai teknisi.

Pria 36 tahun itu menuturkan, pengembangan teknologi monitoring bencana geologi sangat penting sebagai bagian dari proses mitigasi bencana geologi di Indonesia. Hal ini mengingat Indonesia merupakan Negara kepulauan yang di kelilingi oleh gunung berapi.

"Wilayah Indonesia itu 'Ring of Fire' atau gunung berapi. Saat ini ada kurang lebih 129 gunung api aktif di Indonesia dan 68 di antaranya yang baru bisa di monitoring dengan baik. Alat monitoring ini akan terus kami kembangkan dan sempurnakan dengan melibatkan BPPTKG Yogyakarta. Kami akan melakukan penelitian lebih lanjut, pengembangan metode, teknologi dan instrumentasi kebencanaan geologi," pungkasnya.
Halaman

(sun/bdh)