Apakah Tahu yang Dimasak dengan Sampah Plastik Impor Layak Dikonsumsi?

Apakah Tahu yang Dimasak dengan Sampah Plastik Impor Layak Dikonsumsi?

Hilda Meilisa - detikNews
Jumat, 22 Nov 2019 14:57 WIB
Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya - Gubernur Khofifah Indar Parawansa menggandeng beberapa kementerian hingga perguruan tinggi untuk meneliti kandungan tahu yang diproduksi sejumlah pabrik di Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo.

Ini karena tahu tersebut menggunakan bahan bakar sampah plastik impor untuk produksinya. Khofifah menyebut akan ada identifikasi bagaimana kandungan tahu tersebut.

"Hari ini masih rapat lagi, karena dari Balai Besar Kementerian Pertanian juga datang, mereka sangat komplit, dari Unair juga membantu proses untuk bisa melakukan identifikasi tahu yang diolah dengan pembakaran dari sampah plastik," kata Khofifah ditemui di Grand City Surabaya, Jumat (22/11/2019).

Proses penelitian dan uji laboratorium ini, lanjut Khofifah masih terus berjalan. Sebelumnya Khofifah juga telah menawarkan empat opsi pengganti bahan bakar sampah plastik, misalnya dengan NCG atau gas alam, LPG, pallet kayu, hingga gas PGN.


"Jadi sekarang sedang berproses di laboratorium, tim dari Jakarta juga sudah datang dari Kementerian Pertanian ataukah Badan POM juga dari Unair, ada juga dari Dinas Peternakan dan Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Kesehatan Jawa Timur," imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, Khofifah juga mengimbau masyarakat untuk tak lagi khawatir mengonsumsi telur. Menurutnya, telur di Jatim aman dikonsumsi.

"Kalau soal telur saya ingin menyampaikan kembali bahwa produksi telur Jawa Timur adalah 8,2 miliar butir telur semua peternakan di Jawa Timur itu sudah menggunakan good farming practices," tegas Khofifah.

Sementara itu, telur yang disebut mengandung zat dioksin akibat ayambya memakan sampah plastik bahan pembakaran tahu itu hanya didapat dari tiga sampel telur saja. Hal ini, imbuhnya Tak mempengaruhi produksi 8,2 miliar telur Jatim.


"Yang dijadikan sampling adalah tiga telur Tropodo dari se-Jawa Timur ada 8,2 miliar butir telur, yang 3 butir dari Tropodo itu bukan ayam dari peternak ayam telur. Itu ayam buras, ayam kampung yang memang dilepas atau diumbar lalu ada yang dimakan dari ayam kampung ini, kemudian ada kandungan plastik dan ada kandungan dioksin," papar Khofifah.

"Oleh karena itu saya ingin menyampaikan konsumen ayam, konsumen telur ayam dari Jawa Timur, karena ini tidak hanya orang Jawa Timur tapi juga luar Jawa Timur, saya ingin pastikan bahwa ayam yang diternak dari petelur ayam itu aman dan sehat," pungkasnya. (hil/iwd)