detikNews
Rabu 20 November 2019, 16:25 WIB

Hasil Uji Lab Sungai Ledeng Sudah Keluar, Airnya Benar-benar Tercemar

Enggran Eko Budianto - detikNews
Hasil Uji Lab Sungai Ledeng Sudah Keluar, Airnya Benar-benar Tercemar Sungai Ledeng saat dibersihkan (Foto: Eko Budianto)
Mojokerto - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto telah melakukan uji laboratorium terhadap sampel air Sungai Ledeng yang dipenuhi sampah dan limbah usus ayam. Hasilnya, air sungai yang membelah Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari ini di bawah baku mutu.

Sampel air dari Sungai Ledeng diambil oleh petugas DLH Kabupaten Mojokerto pada Jumat (8/11). Sampel tersebut diteliti di UPT Laboratorium Lingkungan Hidup milik DLH Kabupaten Mojokerto.

Kepala DLH Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin mengatakan, hasil uji laboratorium sampel air Sungai Ledeng baru keluar hari ini. Berdasarkan hasil penelitian di laboratorium, menurut dia, air sungai yang bermuara ke Kali Sadar itu di bawah baku mutu.

Salah satu parameternya adalah nilai Kebutuhan Oksigen Biokimia (KOB) atau Biochemical Oxygen Demand (BOD). Berdasarkan hasil uji laboratorium, lanjut Didik, nilai KOB air Sungai Ledeng sangat tinggi hingga melebihi ambang batas maksimal.


"BOD air Sungai Ledeng di beberapa titik ada yang 19,9 miligram per liter, ada juga sampai 36 miligram per liter. Padahal air yang baik di bawah 12 miligram per liter," kata Didik saat dihubungi detikcom, Rabu (20/11/2019).

Kondisi air Sungai Ledeng di bawah baku matu, menurut Didik, tidak hanya akibat pencemaran limbah dari industri rumahan yang mengolah usus ayam. Namun juga dari limbah rumah tangga yang dibuang warga di sepanjang aliran sungai tersebut.

"Hulunya sungai itu dari saluran selokan rumah-rumah penduduk, muaranya ke Sungai Sadar. Jadi sumber pencemaran dari limbah rumah tangga dan industri rumahan yang mengolah usus ayam," terangnya.

Tercemarnya Sungai Ledeng selama bertahun-tahun, kata Didik, tidak hanya mengancam ekosistem sungai, tapi juga membuat air sumur warga di sekitarnya menjadi berminyak.

Ironisnya, sampai saat ini warga masih membuang limbah rumah tangga maupun limbah usus ayam ke sungai tersebut. Sehingga kerja bakti warga Desa Modopuro membersihkan Sungai Ledeng beberapa waktu lalu tidak begitu berarti.

"Warga masih membuang limbahnya ke sungai," ungkapnya.


Untuk menghentikan sumber pencemaran, tambah Didik, pihaknya akan segera bekerjasama dengan Pemerintah Desa Modopuro. Salah satunya untuk membina warga agar tidak membuang sampah dan limbah rumah tangga langsung ke sungai tersebut.

"Kami juga akan mengumpulkan para pelaku industri usus ayam untuk kami bina supaya tidak langsung membuang limbahnya ke sungai," tandasnya.

Kondisi Sungai Ledeng yang penuh sampah dan limbah sudah berlangsung lebih dari 10 tahun. Bau tak sedap terus mengepul dari sungai dengan lebar sekitar 6 meter ini. Tidak hanya itu, limbah di sungai ini juga membuat air sumur warga di sekitarnya menjadi berminyak.

Berdasarkan keterangan Penjabat (Pj) Kepala Desa Modopuro Rokhim, terdapat 14 UKM pengelolaan usus ayam di kampungnya. Para pelaku usaha itu membuang limbahnya ke parit-parit yang berada di sekitar permukiman penduduk. Limbah lantas terbawa air ke Sungai Ledeng.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com