Sidang Keterangan Palsu Bos Pasar Turi, 3 Saksi Ungkap Fakta Pemalsuan

Sidang Keterangan Palsu Bos Pasar Turi, 3 Saksi Ungkap Fakta Pemalsuan

Amir Baihaqi - detikNews
Kamis, 14 Nov 2019 21:34 WIB
Saksi Asoei saat didengarkan kesaksiannya (Foto: Amir Baihaqi)
Saksi Asoei saat didengarkan kesaksiannya (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya - Sidang perkara keterangan palsu pada akta otentik dengan terdakwa Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) Henry J Gunawan bersama istri, Iuneke Anggraini kembali bergulir. 3 saksi dihadirkan kembali oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk mendengarkan kesaksian perkara.

3 saksi itu adalah Komisaris PT Graha Nandi Sampoerna (GNS) Heng Hok Soei alias Shindo Sumidomo alias Asoei, Etja Binti Abdul Malik alias Aisyah selaku staf di kantor notaris Atika Ashiblie dan pendeta Viraha Buddhayana Shakaya Putra Soemarno Sapoetra. Saksi ketiga sendiri merupakan pendeta yang melaksanakan pemberkatan pernikahan Henry dan Iuneke.

Pada kesaksian pertama, saksi Asoei menjelaskan asal muasal terungkapnya dugaan perkara pemalsuan yang dilakukan bos Pasar Turi tersebut. Menurutnya, pemalsuan keterangan pernikahan ke dalam 2 akta otentik yang dibuat di kantor notaris Atika Ashiblie pada tahun 2010 dan baru terungkap 8 tahun kemudian atau sekitar tahun 2018. Padahal kedua terdakwa baru berstatus hukum sah sebagai suami istri pada tahun 2011.

Asoei menuturkan, dirinya mengetahui setelah menerima laporan dari Direktur PT GNS, Iriyanto Abdoella yang menemukan data yang tidak benar. Data itu terkait keterangan kedua terdakwa pada 2 akta yang dibuat, yakni akta nomor 15 tentang pengakuan hutang Henry sebesar Rp 17 miliar rupiah ke PT GNS dan akta nomor 16 tentang personal guarantee Henry dan Iuneke.

"Dari informasi itu, kami akhirnya melakukan rapat dan keputusannya supaya dilaporkan, karena kami menderita kerugian material dan immaterial karena hal ini", kata Asoei saat menjawab pertanyaan JPU Ali Prakoso saat persidangan di ruang Garuda 2, Kamis (14/11/2019).


Keterangan Asoei ini diperkuat dengan keterangan yang disampaikan saksi Etja binti Abdul Malik alias Aisyah, staf di kantor notaris Atika Ashiblie yang didengarkan sebelum Asoei bersaksi. Etja membenarkan adanya pembuatan akta nomor 15 dan 16 antara Henry, Iuneke dan saksi Asoei yang telah ditandatangani bersama dengan disaksikan dirinya dan staf notaris Atika Ashiblie bernama Budi Utomo pada tahun 2010.

"Datang bersama sama, dibacakan di depan notaris dan ditandatangani," terang perempuan 70 tahun itu.

Ditanya terkait hubungan Henry dan Iuneke ketika membuat kedua akta tersebut, Etja mengatakan adalah suami isteri. Sebab, hal itu diketahui dari dokumen yang diserahkan untuk pengajuan pembuatan akta baru Kartu Tanda Penduduk (KTP).

"Setahu saya suami istri, dokumen yang diserahkan saat mengajukan pembuatan akta baru KTP, Surat nikahnya akan disusulkan," beber Etja.

Sementara itu pada saksi ketiga yakni Shakaya Putra Soemarno Sapoetra, pendeta Vihara Buddhayana yang melaksanakan pemberkatan pernikahan Henry dan Iuneke juga membenarkan adanya pernikahan kedua terdakwa. Menurutnya, pernikahan itu dilaksanakan pada tanggal 8 November 2011 secara agaman Buddha yang kemudian dikukuhkan pada catatan sipil.


"Pernikahan secara agama Buddha dilaksanakan tanggal 8 November 2011. Setelah mendapat piagam pengukuhan selanjutnya dilakukan pencatatan di catatan sipil," ungkap pendeta Shakaya.

sepanjang kesaksian Asoei dan saksi Etja sempat terjadi ketegangan dan debat kusir dengan tim penasihat hukum kedua terdakwa yang menilai keterangan saksi Asoei dan Etja belum mampu untuk membuktikan dakwaan JPU.

"Didalam dakwaan ini kan terdakwa didakwa menyuruh melakukan. Jadi menurut saya, keterangan saksi-saksi tadi belum mampu membuktikan kebenaran dakwaan jaksa," ujar Hotma Sitompul selaku ketua tim penasehat hukum terdakwa Henry dan Iuneke saat dikonfirmasi usai persidangan.

Sementara itu, usai mendengarkan keterangan ketiga saksi, JPU Ali Prakoso meyakini tiga saksi yang dihadirkan tersebut telah memperkuat dakwaannya. Karena ketiga saksi memberikan keterangan yang saling berkaitan dengan tidak pidana yang dilakukan kedua terdakwa.

"Intinya sudah menguatkan dakwaan kami, keterangan saksi satu dengan yang lain saling berkaitan," kata Ali. (sun/iwd)