Nasib Candi Watesumpak di Mojokerto yang 11 Tahun Tak Diekskavasi

Nasib Candi Watesumpak di Mojokerto yang 11 Tahun Tak Diekskavasi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 12 Nov 2019 14:33 WIB
Candi Watesumpak di Mojokerto (Enggran Eko Budianto/detikcom)
Candi Watesumpak di Mojokerto (Enggran Eko Budianto/detikcom)
Mojokerto - Candi Watesumpak di Mojokerto seakan kembali tenggelam oleh waktu. Betapa tidak, sejak ditemukan 11 tahun silam, situs purbakala ini tak juga diekskavasi. Padahal candi ini terletak di Trowulan, yang ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya tingkat nasional.

Situs purbakala ini berada di tengah perkebunan jagung Dusun/Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan. Jaraknya sekitar 200 meter di sebelah selatan permukiman penduduk. Tepat di utara situs terdapat tempat pembuatan bata merah milik warga.

Warga setempat biasa menyebutnya dengan Candi Watesumpak. Struktur kuno dari bata merah ini ditemukan di atas lahan sekitar 30x30 meter persegi. Sedangkan luas bangunan yang sudah tampak sekitar 15x30 meter persegi. Tingginya sekitar 3 meter dari permukaan tanah.


Yang menarik, pada sisi barat situs terdapat struktur berbentuk seperti tangga. Di sebelah kanan dan kiri tangga terdapat bata berukir. Bagian ini diperkirakan menjadi pintu masuk ke atas candi.

Sementara di sebelah selatan terdapat 3 balok yang tersusun dari bata merah. Sayangnya, bangunan di atasnya terlihat hancur. Ukuran bata merah yang menyusun situs purbakala ini bervariasi. Namun yang paling banyak mempunyai dimensi 30x15x4 cm.

Penjaga Candi Watesumpak, Kuswari (45), mengatakan situs purbakala ini pertama kali ditemukan mendiang bapaknya pada Oktober 2008. Saat itu almarhum Pairin sedang menggali tanah di lokasi untuk membuat bata merah. Karena dia meyakini tanah tempat penemuan Candi Watesumpak milik keluarganya.


"Dulu tanah ini berupa gundukan yang penuh pepohonan. Di atas gundukan ada empat makam tokoh yang membuka hutan untuk Desa Watesumpak. Para tokoh itu nenek moyang keluarga saya. Karena tidak punya pekerjaan, bapak saya membuat bata merah di sini," kata Kuswari saat berbincang dengan detikcom, Selasa (12/11/2019).

Keempat makam yang diyakini Kuswari sebagai nenek moyangnya sampai saat ini masih dipertahankan di puncak Candi Watesumpak. Tiga makam dipercaya sebagai tempat persemayaman Mbah Surobenco, Surodipo, dan Surodiman. Pada 1994, Pairin membangun tembok keliling makam yang dipertahankan sampai saat ini.

"Bagian candi yang pertama kali ditemukan bapak saya sisi baratnya, yang bentuknya seperti tangga ini," ujar Kuswari sembari menunjuk struktur bata berukir di Candi Watesumpak.
Selanjutnya
Halaman
1 2