detikNews
Sabtu 19 Oktober 2019, 19:29 WIB

Perusahaan Kapal Tunggu Realisasi Tiket Naik Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk

Ardian Fanani - detikNews
Perusahaan Kapal Tunggu Realisasi Tiket Naik Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - Tarif penyeberangan Ketapang-Gilimanuk rencananya akan masuk dalam skema kenaikan tarif yang diatur oleh pemerintah pusat. Namun hingga saat ini, pemberlakuan tarif penyeberangan Selat Bali ini belum terealisasi. Meski baru wacana, kabar tersebut mendapat reaksi positif dari pengusaha angkutan laut.

General Manager ASDP Ketapang, Fahmi Alweni mengatakan hingga saat ini belum ada surat resmi dari Kementerian Perhubungan atau Kementerian Keuangan terkait kenaikan tiket penyeberangan. Memang, sempat ada wacana jika pelabuhan Ketapang-Gilimanuk menjadi salah satu penyeberangan yang akan mengalami penyesuaian tarif.

"Memang ada wacana tapi sampai saat ini belum ada regulasi yang menetapkan hal itu," ujarnya kepada detikcom, Sabtu (19/10/2019).

Meski demikian, karena domain kebijakan ini ada di Pusat, Fahmi belum berani menjabarkan atau menerka-nerka berapa atau kapan kenaikan itu akan diberlakukan.

"Yang jelas, jika aturan tersebut sudah dikeluarkan, pihaknya selaku pelaksana regulasi akan langsung menerapkanya. Kita masih menunggu regulasinya, nanti pasti akan kita sosialisasikan dulu di media," pungkas Fahmi.


Sementara itu, wacana kenaikan tarif penyeberangan di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk disambut positif oleh pengusaha kapal.

Kepala Cabang PT Dharma Lautan Banyuwangi, Sunaryo mengaku senang dengan wacana kenaikan tarif angkutan transportasi laut. Pasalnya, selama ini dia menilai jika perusahaan penyedia jasa angkutan laut cukup kesulitan menyesuaikan diri dengan tarif yang ada.

Pendapatan dari tiket dianggap tidak seimbang dengan biaya operasional yang dikeluarkan perusahaan. Mulai dari BBM, harga spare part kapal yang terus naik menyesuaikan dolar, UMR karyawan yang terus naik dan standar-standar yang harus dipenuhi perusahaan seperti kenyamanan dan keselamatan.

"Kami seringkali kesulitan melakukang penggajian selama ini. Sampai gaji karyawan telat tiga bulan. karena itu, ketika ada wacana kenaikan kami sangat mendukung," imbuh Sunaryo.

Dia juga menambahkan, jika kenaikan benar-benar diterapkan selain membantu perusahaan penyeberangan agar bisa bertahan, hal itu juga mendorong perusahaan untuk memenuhi standar yang selama ini diinginkan masyarakat. Yaitu terkait keselamatan dan kenyamanan. Karena kedua faktor itu menurutnya juga membutuhkan cost yang cukup tinggi.


"Dampak ketika tiket tidak kunjung naik nantinya juga ke dua faktor itu, terutama keselamatan," imbuh Ketua DPD Gapasdap Jawa Timur itu.

Rencana kenaikan tarif itu sendiri sebenarnya tidak lepas dari usul yang dikemukakan Gapasdap sejak empat bulan silam. Cost operasional kapal yang cukup besar dianggap perlu segera disesuaikan untuk bisa mempertahankan usaha transportasi laut. Tak asal usul, Sunaryo mengaku sempat berkonsultasi dulu dengan YLKI dan melakukan survey kepada para pelanggan.

Hasilnya, sebagian besar pelanggan tidak keberatan asalkan ada peningkatan pelayanan terutama di faktor kenyamanan dan keselamatan.

"Kita sama-sama menunggu, semoga bisa segera di Acc. Bayangkan saja contoh dari tiket pejalan kaki. Dari harga Rp 6.500 yang dibayarkan, kita hanya dapat Rp 2.900. murah sekali kan," tandasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com