detikNews
Senin 14 Oktober 2019, 21:11 WIB

Hadirkan 3 Saksi, Sidang Ketiga Jalan Gubeng Ambles Diwarnai Debat

Amir Baihaqi - detikNews
Hadirkan 3 Saksi, Sidang Ketiga Jalan Gubeng Ambles Diwarnai Debat Foto: Amir Baihaqi
Surabaya - Sidang ketiga kasus amblesnya Jalan Gubeng dengan agenda mendengarkan para saksi masih bergulir. Dalam sidang tersebut Jaksa Penuntut Umum dan Majelis Hakim masih mendengarkan seputar keterangan teknis pembangunan.

Sidang yang digelar di ruang Candra, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya itu dipimpin Ketua Majelis Hakim R Anton Widyopriyono dan baru dimulai sekitar pukul 11.30 dan berakhir sampai sekitar pukul 16.10 WIB.

Tiga saksi dihadirkan dalam sidang itu. Ketiga saksi itu yakni Eddy Susapto dari PT Ketira Engineering dan Sapudi Setiawan serta Akrom masing-masing dari PT Indopora.

Masih sama pada persidangan terdahulu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rachmat Hari Basuki menanyakan teknis pembangunan proyek yang mengakibatkan amblesnya Jalan Gubeng. Pada kesempatan itu, Hari mencecar sejumlah pertanyaan kepada saksi Eddy Susapto.

"Saudara sebagai konsultan perencana dari PT Ketira Engginering, coba saudara jelaskan bagaimana perencanaan proyek ini hingga menyebabkan longsor," tanya Hari kepada Eddy dalam persidangan, Senin (14/10/2019).


Mendengar pertanyaan itu, Eddy menjelaskan bahwa perencanaan pembangunan Gubeng Mix Use Development Suranaya telah sesuai dengan yang rencanakan. Meski begitu, ia mengaku dilaksanakan atau tidak hal itu tergantung dari kontraktor pelaksana.

"Hasil perencanaan sudah diserahkan ke kontraktor pelaksana, dijalankan atau tidak di lapangan, itu urusan kontraktor pelaksana," jawab Eddy.

Jawaban dari Eddy itu lantas memantik debat kusir dengan penasihat hukum dari PT Saputra Karya. Sebab, jawaban tersebut dinilai hanya sebagai perencana saja bukan pada pelaksanaan proyek pembangunan. Perdebatan itu berhenti setelah hakim menyela dan menegaskan bahwa hakim yang berhak menilai dari keterangan saksi tersebut.

Ketua tim penesehat hukum PT Saputra Karya Martin Suryana menilai jawaban saksi dinilai terlalu mengada-ada. Selain itu juga, Eddy dianggap terkesan lari dari tanggungjawab sebagai konsultan atau perencana proyek.


"Kalau orang bangun tentu diserahkan ke perencanaan. Bangunan apa pun kata kuncinya adalah perencanaan. Pekerjaan perencana ini dari hulu ke hilir. Dari awal sampai akhir dan ada unsur pengawasannya," tegas Martin.

"Dia tidak boleh mengatakan suatu perencanaan itu kalau sudah dibuat ya sudah terserah mau dilaksanakan apa tidak di lapangan, nggak boleh seperti itu. Dia punya tanggung jawab yang melekat dan melekat," tandasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com