detikNews
Senin 14 Oktober 2019, 18:09 WIB

Beban Keuangan Bengkak Rp 12 M, Pemkot Mojokerto Harap Iuran BPJS Tak Naik

Enggran Eko Budianto - detikNews
Beban Keuangan Bengkak Rp 12 M, Pemkot Mojokerto Harap Iuran BPJS Tak Naik BPJS Kesehatan/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan tahun depan bakal membuat beban keuangan Pemkot Mojokerto membengkak hingga Rp 12 miliar. Pemkot Mojokerto pun berharap rencana kenaikan itu dibatalkan.

Pada 2018, Pemkot Mojokerto berhasil menerapkan program universal health coverage (UHC). Dari 144.943 penduduk Kota Onde-onde, 142.140 jiwa atau 98,37% telah tercover program jaminan kesehatan nasional. Sehingga Pemkot Mojokerto meraih UHC Award dari Presiden Jokowi.

Untuk mencapai angka 98,37 persen, Pemkot Mojokerto menggelontorkan APBD untuk membayar iuran BPJS Kesehatan warganya yang belum terdaftar sebagai peserta JKN-KIS, BPJS Kesehatan mandiri maupun asuransi swasta.


Data yang diterima detikcom dari BPJS Kesehatan Mojokerto, rata-rata setiap bulan Pemkot Mojokerto membayar iuran Rp 1.202.072.000. Dengan dana tersebut, jumlah warga Kota Onde-onde Penerima Bantuan Iuran (PBI) daerah mencapai 52.264 jiwa. Sehingga sepanjang 2019, APBD yang dikucurkan untuk membayar iuran BPJS Kesehatan mencapai Rp 14.424.864.000.

"Bisa lebih, bisa juga kurang dari itu. Karena setiap bulan kan ada mutasi tambah dan kurang," kata Humas BPJS Kesehatan Mojokerto Budi Setiawati kepada detikcom, Senin (14/10/2019).

Jika mulai Januari 2020 pemerintah pusat jadi menaikkan iuran BPJS Kesehatan bagi PBI daerah dari Rp 23.000 menjadi Rp 42.000 per jiwa, maka Pemkot Mojokerto setidaknya harus mengalokasikan APBD Rp 26.341.056.000. Kenaikan iuran BPJS Kesehatan bakal membuat beban keuangan Pemkot Mojokerto membengkak Rp 11.916.192.000 pada tahun depan.

Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Mojokerto Hatta Amrulloh berharap, iuran BPJS Kesehatan tidak jadi dinaikkan pada tahun depan. Karena pihaknya belum mengantisipasi rencana kenaikan iuran tersebut. Menurut dia, alokasi APBD tahun 2020 untuk membayar iuran BPJS Kesehatan tetap sama seperti tahun ini, yaitu Rp 17 miliar.

"Kalau bisa, mohon maaf ya, karena kami tidak pernah wanprestasi dalam membayar iuran BPJS Kesehatan warga kami, tentunya kami akan bingung kalau iuran dinaikkan," terangnya.

Tahun ini, lanjut Hatta, Pemkot Mojokerto mengalokasikan Rp 17 miliar untuk membayar iuran warga yang belum tercover Jaminas Kesehatan Nasional maupun asuransi swasta. Nilai itu lebih tinggi dibandingkan data yang dirilis BPJS Kesehatan Mojokerto karena bersifat alokatif.

"Itu alokasi kalau ada tambahan PBI daerah dari angka kelahiran atau mutasi penduduk masuk," jelasnya.


Jika pemerintah pusat tetap menaikkan iuran BPJS Kesehatan 2020 nanti, tambah Hatta, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Pemkot Mojokerto akan berusaha untuk membayar iuran bagi warganya.

Solusi untuk menambah anggaran hingga Rp 12 miliar akan dibahas oleh Tim Anggaran Pemkot bersama DPRD Kota Mojokerto. Namun pembahasan itu menunggu Surat Edaran (SE) dari Kementerian Kesehatan terkait kenaikan iuran BPJS Kesehatan 2020.

"Peningkatan pelayanan kesehatan wajib hukumnya. Kami sudah melaksanakan kewajiban dengan membayar premi, tidak pernah nunggak. Harapan kami BPJS Kesehatan juga meningkatkan pelayanan untuk mengcover faskes agar lebih maksimal. Karena selama ini BPJS ada tunggakan di rumah sakit," tandasnya.

BPJS Kesehatan merilis daftar kenaikan iuran yang direncanakan naik per 1 Januari 2020:

1. PBI pusat dan daerah Rp 42.000 dari Rp 23.000/bulan/jiwa
2. Kelas I menjadi Rp 160.000 dari Rp 80.000/bulan/jiwa
3. Kelas II menjadi Rp 110.000 dari Rp 51.000/bulan/jiwa
4. Kelas III menjadi Rp 42.000 dari Rp 25.500/bulan/jiwa
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com