Perusahaan Investasi Bodong di Mojokerto Serang Balik Korban

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 27 Sep 2019 21:01 WIB
Saat pihak PT RHS Group mendatangi Mapolres Mojokerto Kota/Foto: Enggran Eko Budianto
Saat pihak PT RHS Group mendatangi Mapolres Mojokerto Kota/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Perusahaan investasi bodong PT RHS Group melancarkan serangan balik kepada para korban. Mereka melaporkan sejumlah korban terkait dugaan fitnah dan ujaran kebencian.

Para pelapor yakni Kepala Cabang PT RHS Mojokerto Dwi Sanyoto dan beberapa pengurus di tim 9 atau Divisi Sosial PT RHS Cabang Mojokerto. Mereka datang ke SPKT Polres Mojokerto Kota di Jalan Bhayangkara didampingi tim kuasa hukum. Oleh petugas, mereka langsung diarahkan ke Satreskrim.

Kuasa Hukum PT RHS Cabang Mojokerto Urip Mulyadi mengatakan, kali ini pihaknya melaporkan 4 orang investor PT RHS Group. Mereka yakni Ahmad Syafiudin, Vina, Ricky dan Romlah.


Ia menjelaskan, Syafiudin dilaporkan atas pernyataannya di media televisi yang dinilai tidak sesuai fakta. Saat diwawancara wartawan televisi, Syafiudin menyatakan telah menanamkan modalnya di PT RHS Group Rp 172 juta. Dengan rincian investasi awal Rp 10 juta, kedua Rp 50 juta dan ketiga Rp 112 juta.

"Kami membuat laporan fitnah yang dilakukan Ahmad Syafiudin kepada Pak Dwi selaku Kepala Cabang PT RHS Mojokerto. Karena di dalam dokumen PT RHS tidak ada investasi dia senilai Rp 50 dan Rp 112 juta," kata Urip kepada wartawan di Satreskrim Polres Mojokerto Kota, Jumat (27/9/2019).

Berdasarkan dokumen yang dimiliki PT RHS Cabang Mojokerto, Syafiudin menanamkan modalnya sejak Desember 2015. Nilainya hanya Rp 10 juta.

"Dia (Syafiudin) sudah menerima bagi hasil 28 kali," ungkap Urip.

Sementara Vina, Ricky dan Romlah, lanjut Urip, dilaporkan atas dugaan ujaran kebencian melalui grup WhatsApp Bisham Mojokerto. Menurut dia, ketiga investor PT RHS Group itu dilaporkan oleh kliennya bernama Sumargi dan Isno yang juga duduk di Divisi Sosial PT RHS Cabang Mojokerto.

"Ujaran kebencian ada 200 bukti di grup WhatsApp Bisham Mojokerto," terangnya.


Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Julian Kamdo Waroka menuturkan, pihaknya tetap menerima laporan dari PT RHS Mojokerto. Pihaknya pun bakal menyelidiki dugaan fitnah dan ujaran kebencian yang dilaporkan.

"Penyelidikan tetap kami lakukan, jika nantinya tidak ada unsur pidana, kami hentikan," tegasnya.

Sebanyak 109 orang yang menanamkan modalnya di PT RHS Group melapor ke Polres Mojokerto Kota, Selasa (3/9). Mereka merasa tertipu karena bagi hasil 5 persen hanya jalan beberapa bulan. Selain itu, modal yang mereka tanamkan dengan nilai total Rp 7 miliar juga tak juga dikembalikan.

Kasus investasi bodong ini sudah pada tahap penyidikan. Namun, polisi belum menetapkan tersangka. Saat ini Polres Mojokerto Kota membentuk tim khusus berjumlah 10 penyidik untuk memeriksa ulang para korban dan terlapor, Dwi Sanyoto.

"Karena versi korban dan terlapor berbeda. Kami harus bijak, kami cek alat bukti apa saja yang bisa mengarah pada tersangka," tandasnya.

Sementara Ketua Divisi Sosial PT RHS Mojokerto Sumargi menyatakan, jumlah penanam modal mencapai 565 orang. Total nilai investasi mereka Rp 21,5 miliar. Dana seluruh investor sampai saat ini belum kembali. Pihaknya berjanji akan mengembalikan dana tersebut setelah Waterpark Chenoa di Nglegok, Blitar laku terjual.


Dana puluhan miliar itu selama ini mengalir ke rekening Direktur Utama PT RHS Group M Ainur Rofiq yang berdomisili di Blitar. Investasi itu diputar dalam bisnis 8 toko bahan bangunan di Blitar dan Kediri, serta pengembangan Waterpark Chenoa.

Selain memberi bagi hasil 5 persen tiap bulan kepada investor, PT RHS Group juga memberi bonus 5 persen kepada investor yang berhasil mengajak penanam modal baru. Bonus itu diberikan satu kali. Namun, bagi hasil 5 persen mandek sejak April 2018. (sun/bdh)