detikNews
Jumat 20 September 2019, 18:40 WIB

Polisi Tak akan Gegabah Tetapkan Tersangka Investasi Bodong di Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikNews
Polisi Tak akan Gegabah Tetapkan Tersangka Investasi Bodong di Mojokerto Kasat Reskrim Polresta Mojokerto AKP Julian Kamdo Waroka/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Meski status kasus investasi bodong di Mojokerto ke tahap penyidikan, polisi belum menetapkan seorangpun sebagai tersangka. Sebab, petugas mencium adanya aliran dana para korban ke sejumlah orang yang juga menjadi investor di PT RHS Group.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Julian Kamdo Waroka mengatakan, sejauh ini pihaknya baru memeriksa satu orang terlapor. Yakni Kepala Cabang PT RHS Mojokerto Dwi Sanyoto.

Dari pria asal Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, itu pihaknya mendapatkan keterangan adanya indikasi aliran dana investasi bodong kepada sejumlah investor yang mengaku sebagai korban.

Menurut dia, aliran dana itu berupa satu kali bonus dari PT RHS Group karena mengajak investor baru. Nilainya sebesar 5 persen dari nilai investasi pemodal baru.

"Keterangan terlapor, dia mendapatkan itu (Investasi) dari para pelapor juga, nasabah itu juga dia yang membawa nasabah berikutnya," kata kasat saat dihubungi detikcom, Jumat (20/9/2019).


Oleh sebab itu, lanjut dia, pihaknya akan memeriksa ulang para korban, pelapor dan tim 9 di dalam PT RHS cabang Mojokerto. Menurut dia, dulunya orang-orang yang masuk di tim 9 juga investor.

Pemeriksaan ulang itu ditargetkan bisa mengungkap kerugian dan keuntungan yang diterima para investor yang mengaku menjadi korban.

"Saya kesulitan karena yang saya tangani awal hanya versi pelapor yang menyatakan kerugiannya. Saya masih singkronkan kerugian dan keuntungan yang didapatkan oleh para korban," terangnya.

Oleh sebab itu, kata dia, sampai saat ini pihaknya belum menetapkan tersangka. Meski telah meningkatkan proses hukum kasus investasi bodong ke tahap penyidikan.

"Jangan sampai saya menenentukan si ini bersalah ternyata kesalahannya ada kontribusi pihak lain," tandasnya.


Sebanyak 109 orang menanamkan modalnya di PT RHS Group melapor ke Polres Mojokerto Kota, Selasa (3/9). Mereka merasa tertipu karena bagi hasil 5 persen hanya jalan beberapa bulan. Selain itu, modal yang mereka tanamkan dengan nilai total Rp 7 miliar juga tak juga dikembalikan.

Sementara Ketua Divisi Sosial PT RHS Mojokerto Sumargi menyatakan, jumlah penanam modal mencapai 565 orang. Total nilai investasi mereka Rp 21,5 miliar. Dana seluruh investor sampai saat ini belum kembali. Pihaknya berjanji akan mengembalikan dana tersebut setelah Waterpark Chenoa di Nglegok, Blitar laku terjual.

Dana puluhan miliar itu selama ini mengalir ke rekening Direktur Utama PT RHS Group M Ainur Rofiq yang berdomisili di Blitar. Investasi itu diputar dalam bisnis 8 toko bahan bangunan di Blitar dan Kediri, serta pengembangan Waterpark Chenoa.

Selain memberi bagi hasil 5 persen tiap bulan kepada investor, PT RHS Group juga memberi bonus 5 persen kepada investor yang berhasil mengajak penanam modal baru. Bonus itu diberikan satu kali. Namun, bagi hasil 5 persen mandek sejak April 2018.


Simak juga video "Jadi Korban Investasi Bodong Pablo Benua, Pieter Ola Rugi Rp 500 Juta":

[Gambas:Video 20detik]


(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com