detikNews
Jumat 20 September 2019, 09:35 WIB

Ribuan Usia Produktif di Blitar Gagal Ginjal Kronis, Ini Penyebabnya

Erliana Riady - detikNews
Ribuan Usia Produktif di Blitar Gagal Ginjal Kronis, Ini Penyebabnya Foto: Erliana Riady
Blitar - Sebanyak 1.189 warga Blitar terdeteksi alami gagal ginjal kronis. Sebagian besar penderita adalah usia produktif. Pemicunya, yang utama adalah kesalahan pola konsumsi obat, terutama obat anti nyeri.

Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menyatakan, angka tersebut tercatat sejak bulan Januari hingga awal September tahun 2019. Jumlah ini naik dibanding tahun 2018 kurang dari 1.000 penderita.

"Angka 1.189 ini merupakan kasus baru di tahun 2019 ini. Kalau dirata-rata ada 22 kecamatan, berarti ada sekitar 50 penderita baru per kecamatan. Dan sekitar 4 penderita baru per desa," kata Kasi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr Muji Astuti di kantornya, Jalan Semeru Kota Blitar, Jumat (20/9/2019).

Menurut Muji, ada beberapa faktor yang mempengaruhi meningkatnya pasien gagal ginjal kronis ini. Namun yang perlu disoroti dan menjadi pemicu utama di kalangan masyarakat adalah pola konsumsi obat yang salah. Terutama obat anti nyeri, baik jenis steroid atau kortikosteroid maupun non steroid.

Kortikosteroid atau yang umum dikenal dengan naman steroid merupakan obat anti peradangan untuk mengobati gejala kondisi medis. Umumnya obat ini diresepkan untuk mengatasi asma, rematik, nyeri sendi, radang usus besar hingga masalah kulit dan nyeri otot.


"Penggunaan obat-obatan ini yang tidak terkontrol menjadi pemicu utama timbulnya gagal ginjal kronis. Masyarakat biasanya beli di apotek dengan istilah obat setelan," ungkapnya.

Obat-obatan ini, lanjutnya, biasa dikonsumsi pasien diabetes atau hipertensi. Namun tanpa petunjuk atau anjuran dari dokter. Masyarakat yang menderita gatal atau nyeri tulang, kerap langsung membelinya di apotek tanpa dosis yang dianjurkan.

"Padahal kami para dokter selalu menganjurkan ada pengurangan dosis secara bertahap sejak hari pertama misal 3 kali, hari kedua dua kali dan seterusnya. Istilah kami dose tapering off," ujar dr Muji.

Tujuan dilakukan tapering off, agar tubuh kita tidak mengalami gangguan akibat penghentian obat yang bersifat tiba-tiba.

Mirisnya, penderita gagal ginjal kronis saat ini bergeser ke kalangan usia produktif. Pola hidup yang tidak sehat menjadi biang utama para remaja menderita gagal ginjal kronis.

"Iya pasien saya ada yang usianya masih 19 tahun. Pas usia produktif itu. Makanya jaga pola hidup sehat. Karena semua penyakit berawal dari situ. Sehat pola makan, sehat pola hidup jangan suka yang instan termasuk berobat dan sehat memanejen stres," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com