Rekam Jejak Fuad Amin Eks Bupati Bangkalan Sebelum Meninggal Dunia

Rekam Jejak Fuad Amin Eks Bupati Bangkalan Sebelum Meninggal Dunia

Hilda Meilisa - detikNews
Selasa, 17 Sep 2019 08:15 WIB
Foto: Ari Saputra/detikcom
Foto: Ari Saputra/detikcom
Surabaya - Eks Bupati Bangkalan Fuad Amin meninggal dunia di RS Graha Amerta RSU dr Soetomo, Surabaya, Senin (16/9). Terpidana KPK APBD Bangkalan senilai Rp 414 miliar ini juga memiliki rekam jejak yang cukup menarik. Seperti apa?

Sebelumnya, Fuad merupakan anggota DPR periode 1999-2004. Belum habis masa baktinya di Senayan, ia menjadi Bupati Bangkalan dua periode mulai 2003 hingga 2013.

Setelah tak menjabat bupati, Fuad Amin menjadi Ketua DPC Partai Gerindra Bangkalan, yang mengantarkannya menjadi Ketua DPRD Bangkalan periode 2014-2019. Adapun kursi Bupati Bangkalan diteruskan oleh anaknya, Makmun Ibnu Fuad atau Ra Momon. Jabatan ini merupakan tukar-menukar karena Ra Momon dulu juga pernah menjabat Ketua DPRD Bangkalan.

Pada Pilpres 2014, Fuad menjadi anggota timses Prabowo-Hatta. Namun, pada akhir 2014, Fuad Amin terciduk KPK. Dia dituding menerima hadiah terkait jual-beli pasokan gas alam untuk pembangkit listrik tenaga gas di Gresik, Jawa Timur, dan Gili Timur, Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Fuad Amin juga melakukan korupsi dan pencucian uang ratusan miliar rupiah. Tak hanya itu, Fuad mengutip 5-15 persen APBD yang mengucur ke tiap SKPD.


Selain itu, Fuad Amin diketahui melakukan jual-beli SK PNS, dari Rp 15 juta hingga Rp 50 jutaan, tergantung posisi. Sedangkan kepada para pengusaha migas, Fuad meminta 'jatah preman' setiap bulan. Dari Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar. 'Jatah preman' inilah yang mengantarkannya ke bui.

Fuad Amin akhirnya dihukum 13 tahun penjara di tingkat kasasi. Seluruh asetnya dirampas untuk negara, sementara Fuad dieksekusi ke LP Sukamiskin.

Namun ulah Fuad Amin seakan tidak ada habisnya. Setelah tercatat korupsi APBD Bangkalan hingga Rp 414 miliar, Fuad masih berulah di penjara. Bahkan, saat KPK menggelar OTT di LP Sukamiskin, dia tak ditemukan di selnya.

Di penjara khusus koruptor itu, dia membuat geger karena kerap keluar dari sel tahanan. Namun pihak LP berdalih Fuad Amin keluar dari penjara untuk berobat. Satu hal yang mengejutkan, Fuad Amin juga diketahui kerap singgah di rumah mewahnya yang berada di Jalan Ir H Djuanda No 175, Bandung.

Tak hanya itu, saat persidangan kasus suap eks Kalapas Sukamiskin, Fuad Amin disebut pernah pulang dari rumah sakit ke sel tahanan menggunakan mobil Alphard. Fuad juga memberikan uang Rp 500 ribu kepada sopir ambulans untuk biaya perawatan.


Saat dipenjara, Fuad Amin diketahui memang sering meminta izin untuk berobat. Fuad disebut menderita komplikasi penyakit. Fuad juga mengaku kerap mengalami vertigo hingga mengeluh sakit pada jantungnya.

Pada Februari 2019, santer kabar Fuad Amin tak lagi menghuni Lapas Sukamiskin. Ternyata Fuad telah pindah ke Lapas Kelas 1 Surabaya di Porong, Sidoarjo.

"Ya, sudah (pindah) sejak 30 November 2018 ke Lapas Kelas 1 Surabaya," ucap Kalapas Sukamiskin Tejo kepada detikcom, Kamis (7/2/2019).

Kepindahan Fuad Amin berawal dari pengajuan permohonan keluarga Fuad Amin ke Lapas Sukamiskin. Tejo menjelaskan kepindahan Fuad Amin ke Lapas Surabaya dikarenakan faktor kesehatan. Keluarga Fuad Amin mengaku ingin memperhatikan kondisi kesehatan Fuad Amin dari dekat.

Sementara itu, beberapa harta hasil korupsi Fuad Amin telah dilelang. Ada beberapa rumah mewah, apartemen, hingga mobil yang disebut nilainya mencapai Rp 414 miliar. Lalu berapa gaji Fuad hingga hartanya mencapai Rp 414 miliar?


Bendahara Pemkab Bangkalan Edi Mulyono, sebagaimana dikutip dari putusan Mahkamah Agung, Senin (25/9/2017), menyebut daftar gaji Fuad Amin rata-rata mulai Rp 52,68 juta hingga Rp 80 juta dalam setahun.

Selain itu, Fuad mendapatkan honor dengan nilai dari Rp 130 juta hingga Rp 552 juta untuk setiap tahun selama menjabat. Ditambah dengan tambahan upah pungut PBB sepanjang 2003-2013, total penghasilan sebagai Bupati Bangkalan selama satu dasawarsa sebesar Rp 4,8 miliar.

Namun Fuad Amin mengaku mendapatkan warisan sekitar Rp 14 miliar. Dia juga memiliki bisnis besi bekas, bisnis kayu sengon, hingga bisnis umrah. Tapi KPK tidak percaya begitu saja dan meminta pembuktian dari Fuad Amin. Ternyata Fuad Amin tidak bisa membuktikan secara sah seluruh asal-usul hartanya sehingga Mahkamah Agung merampas seluruh aset Fuad Amin. (hil/fat)