detikNews
Senin 16 September 2019, 18:33 WIB

Ini Tanggapan Untag Surabaya Saat Dikaitkan dengan 'KKN Desa Penari'

Amir Baihaqi - detikNews
Ini Tanggapan Untag Surabaya Saat Dikaitkan dengan KKN Desa Penari Ketua LPPM Untag Surabaya Muslimin Abdurahim (Amir Baihaqi/detikcom)
Surabaya - Akun Instagram @mirrorgenk menyebut Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya sebagai kampus para mahasiswa dalam cerita horor 'KKN Desa Penari'. Namun pihak kampus dengan tegas membantahnya.

Posting-an tersebut kemudian membuat heboh dan memantik beragam komentar warganet. detikcom kemudian mendatangi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) kampus Untag di Jalan Semolowaru. Tujuannya untuk menanyakan kebenaran posting-an @mirrorgenk yang diunggah empat hari lalu itu.

"Kita tahun 2009 itu kita nggak pernah mengirim KKN ke sana. Kita belum pernah. Itu misalnya di Banyuwangi ya. Kita selama ini belum pernah sampai ke sana," kata Ketua LPPM Untag Surabaya Muslimin Abdurahim saat ditemui detikcom, Senin (16/9/2019).


Muslimin juga menepis posting-an yang menyebut peserta dari kampus Untag per kelompok berjumlah 6-8 mahasiswa. Sebab, selama ini dalam setiap KKN, Untag selalu mengelompokkan 30-40 mahasiswa.

"Kemudian kalau nggak salah pesertanya kan ada 6 dan 8 orang. Kelompok 6 orang, satu kelompok lagi 8. Sedangkan di Untag ini KKN-nya ini 30-40 per kelompok. Kita kemarin di Gresik sampai 30 kelompok. Karena memang lebih dari 1.500 mahasiswa," terang Muslimin.

"Dan setiap kelompok selalu didampingi oleh dosen pembimbing lapangan (DPL). Di samping itu ada panitia, panitia itu biasanya ada di posko. Panitia seluruh anggota LPPM masuk di situ, ditambah dari seluruh wakil fakultas masing-masing atau jurusan. Jadi relatif ada semua dan selalu mengontrol setiap desa. Dan di setiap desa ada DPL," tambahnya.

Ia kembali menegaskan posting-an yang beredar di media sosial tidak benar. Sebab, dari kriteria yang disebutkan juga sudah berbeda jauh.

"Itu nggaklah karena dari kriteria sudah beda. Kelompoknya sudah beda, terus jumlah orangnya sudah beda, yang 8-6 itu sudah beda," lanjut Muslimin.

Menurut Muslimin, selama ini pihak Untag selalu melakukan KKN hanya di sekitar tiga daerah, yakni Lamongan, Gresik, dan Jombang. Hal itu dilakukan untuk menekan biaya KKN yang memang dibebankan kepada para mahasiswa yang mengikuti.


Ia juga menyebut Untag tidak lagi mengirimkan mahasiswanya KKN di Jatim bagian timur sejak 2009. Sebab, pada 2017, pihaknya pernah mengirim KKN ke Probolinggo.

"KKN hanya di sekitar Gresik, Lamongan, dan Jombang. Pernah kita di sana. Kalau jauh-jauh kita kan berpikir terlalu mahal. Karena KKN itu kan biayanya ditanggung oleh mahasiswa. Kalau kita terlalu jauh, biaya akan terlalu mahal. Kecuali kalau kita ada permintaan dan penugasan dari Ristekdikti atau dari Jakarta, itu kan mereka yang biayai. Jadi nggak ada sampai ke timur jauh itu," terang Muslimin.

"Kalau 2017 di Probolinggo iya. Kita memang ada kerja sama dengan Ibu Wali Kota. Dan kita waktu itu di kotanya, waktu itu bukan di desa. Itu KKN reguler atau massal. Itu permintaan kerja sama dengan Bu Wali," lanjut Muslimin.

Karena itu, pihaknya mengaku heran mengapa kampusnya disangkutpautkan dengan cerita horor 'KKN Desa Penari'. Menurutnya, informasi itu tidak berdasar.


"Itu saya nggak tahu dasarnya mengatakan itu dari mana. Karena kita nggak pernah mengirim 6 atau 8 orang KKN selama ini," pungkasnya.

Spekulasi yang di-posting @mirrorgenk merujuk pada kisah mistis yang sebelumnya diceritakan akun Twitter @SimpleM81378523. Bahwa ada 14 mahasiswa-mahasiswi yang menggelar KKN di Kota B, Jawa Timur, pada 2009 akhir. Mereka merupakan mahasiswa-mahasiswi angkatan 2005/2006 dari sebuah perguruan tinggi di Kota S.

Enam mahasiswa-mahasiswi di antaranya disamarkan dengan nama Ayu, Nur, Widya, Wahyu, Anton, dan Bima. Dua di antaranya meninggal setelah melewati seabrek hal mistis di tempat KKN tersebut.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com