Wali Murid di Jombang Keluhkan Harga Seragam Setengah Juta Lebih

Wali Murid di Jombang Keluhkan Harga Seragam Setengah Juta Lebih

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 11 Sep 2019 18:49 WIB
Kain seragam batik SMPN di Jombang/Foto: Enggran Eko Budianto
Kain seragam batik SMPN di Jombang/Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang - Harga seragam batik untuk siswa SMP Negeri di Jombang dikeluhkan para wali murid. Betapa tidak, para orang tua diminta membayar hingga Rp 615 ribu untuk mendapatkan satu setel seragam batik siap pakai.

Seperti yang terjadi di SMPN 2 Jombang. Data yang dihimpun detikcom, setiap setel seragam batik terdiri dari kemeja batik motif daun warna hijau, rompi kotak-kotak dan bawahan warna hijau. Sekolah menjual hanya dalam bentuk lembaran kain dengan harga bervariasi tergantung ukuran dan jenis kelamin.

Kain seragam batik untuk siswa putra ukuran M, L dan XL masing-masing Rp 339 ribu, Rp 415 ribu dan Rp 450 ribu. Sedangkan untuk siswa putri ukuran M, L dan XL adalah Rp 345 ribu, Rp 420 ribu dan Rp 447 ribu.


Harga segitu ternyata belum termasuk ongkos jahit. Setiap satu setel seragam batik dikenakan biaya Rp 165 ribu. Proses penjahitan seragam khas tersebut diborong oleh beberapa orang tua siswa. Dengan begitu, untuk mendapatkan satu setel seragam batik, setiap orang tua siswa harus merogoh kocek Rp 504 ribu sampai Rp 615 ribu.

Harga seragam batik lebih dari setengah juta itu dikeluhkan para orang tua siswa. Seperti yang dikatakan WT (37), warga Kecamatan Jombang.

"Harga kainnya terlalu mahal. Kalau bisa dikurangi sedikit karena buat kalangan seperti saya yang kurang mampu masih keberatan," kata WT kepada wartawan saat menjemput anaknya di depan SMPN 2 Jombang, Rabu (11/9/2019).

Kendati begitu, WT mengaku terpaksa membayar seragam batik tersebut. Karena dia kasihan jika anaknya sampai tidak memakai seragam batik yang sama dengan siswa-siswa lainnya.

"Mungkin lebih murah beli di toko. Ini harus beli. Kalau tidak kasihan anaknya tidak seragam," ujarnya.


Hal senada dikatakan RT (33), orang tua siswa kelas VII SMPN 2 Jombang. Meski harga seragam batik untuk anaknya mahal, dia terpaksa membayarnya dengan cara mengangsur. Terlebih, harga kain seragam batik sudah ditentukan oleh pihak sekolah.

"Tapi sudah ditentukan segitu mau bagaimana lagi. Saat rapat langsung ditentukan dan di-share di grup, kami tidak diajak berembuk," ungkapnya.

Ia berharap, pihak sekolah memberikan keringanan harga seragam batik untuk anaknya. Karena dia harus membayar Rp 450 ribu untuk kain dan Rp 165 ribu untuk ongkos jahit.

"Harapannya diberi diskon supaya tidak terlalu mahal," ujarnya.

Koordinator Paguyuban Wali Murid SMPN 2 Jombang Irwan membenarkan harga kain seragam batik yang dipatok pihak sekolah. Dia menyatakan tidak mengetahui proses pengadaan kain seragam batik tersebut. Menurut dia, harga tersebut sudah disampaikan kepada para orang tua siswa melalui rapat wali murid.

"Selama ini tidak ada komplain apapun dari setiap ketua paguyuban wali murid di kelas 7," terangnya.


Irwan meminta para orang tua yang keberatan dengan harga seragam batik untuk menyampaikan kepada dirinya. Pihaknya akan memberi keringanan bagi siswa dari keluarga tidak mampu.

"Kalau ada yang tidak mampu kami subsidi. Selama ini tidak ada yang ngomong sama sekali sehingga tidak ada yang disubsidi karena kami anggap mampu semua," pungkasnya. (sun/bdh)