detikNews
Sabtu 24 Agustus 2019, 21:05 WIB

Penganiayaan yang Tewaskan Santri di Mojokerto Direkonstruksi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Penganiayaan yang Tewaskan Santri di Mojokerto Direkonstruksi Rekonstruksi Ponpes Mambaul Ulum/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Kasus penganiayaan yang menewaskan santri Ponpes Mambaul Ulum di Mojokerto, direka ulang. 14 Adegan dalam rekonstruksi mengungkap cara pelaku menganiaya korban hingga berakhir kematian.

Reka ulang digelar di lokasi penganiayaan, yaitu asrama santri PP Mambaul Ulum, Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari. Sayangnya, rekonstruksi yang digelar mulai sekitar pukul 12.30 WIB itu tertutup dari wartawan.

Para wartawan hanya dibolehkan mengambil gambar dari luar pagar PP Mambaul Ulum. Pintu gerbang pesantren dijaga dua satpam. Nampak pula sejumlah polisi berjaga di pos keamanan pondok. Hingga reka ulang tuntas, tak seorang pun polisi bersedia memberikan keterangan kepada wartawan.


"Hari ini kami reka ulang dugaan kekerasan terhadap anak di sebuah ponpes di Mojokerto. Ada 14 adegan yang kami perankan untuk melengkapi berkas penyidikan yang sedang disusun oleh penyidik," kata Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Muhammad Solikhin Fery di Mapolres Mojokerto, Jalan Gajah Mada, Mojosari, Sabtu (24/8/2019) petang.

Sayangnya Fery enggan menceritakan detil proses kekerasaan yang dilakukan santri senior berinisial WN (17) terhadap juniornya, Ari Rivaldo (16).

"Mohon maaf saya tidak bisa menceritakan secara detil. Karena pelaku dan saksi-saksi merupakan anak di bawah 18 tahun. Kita sama-sama menghargai sistem peradilan anak," ujarnya.


Ia menjelaskan, 14 adegan dalam reka ulang mengungkap cara WN menganiaya korban. Santri asal Kecamatan Pacet, Mojokerto itu ternyata menendang korban sebanyak 4 kali. Tendangan pelaku mengakibatkan kepala korban membentur dinding asrama.

"Pada intinya si pelaku melakukan kekerasan dengan cara menendang empat kali. Satu kali saat (korban) duduk dan tiga kali saat sudah tergeletak di lantai," terang Fery.

Sementara Kuasa Hukum PP Mambaul Ulum yang juga Pengacara WN, Agus Sholahuddin menuturkan, penganiayaan ini dipicu kekesalan pelaku terhadap korban. Karena korban kerap keluar lingkungan pesantren tanpa izin. Menurut dia, korban tak mengindahkan teguran dari WN yang ditunjuk menjadi ketua kamar asrama santri.


Puncaknya pada Senin (19/8) sekitar pukul 23.00 WIB, WN mendatangi korban di kamarnya. Awalnya pelaku membangunkan teman sekamar korban, Putra Gilang Ramadhan (15). Saat itu pelaku bertanya ke Putra dengan siapa dia keluar pondok. Putra lantas menunjuk korban yang sedang tidur.

"Saksi (Putra) menunjuk korban. Korban sempat ditanya WN (setelah korban dibangunkan), apa benar keluar dengan saksi? Benar, lantas terjadilah peristiwa itu," tandas Agus.

Akibat kekerasan yang dilakukan WN, tengkorak belakang Ari pecah setalah kepalanya membentur dinding kamar asrama. Korban tewas saat dirawat di RSI Sakinah, Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Mojokerto pada Selasa (20/8) sekitar pukul 12.00 WIB.

WN telah ditetapkan sebagai pelaku anak (sebutan tersangka untuk anak) dalam kasus ini. Dia dijerat dengan Pasal 80 UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan yang Mengakibatkan Tewasnya Korban.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com