detikNews
Jumat 23 Agustus 2019, 10:59 WIB

Ini Alasan Pengurus Ponpes Sebut Santri di Mojokerto Tewas Terjatuh

Enggran Eko Budianto - detikNews
Ini Alasan Pengurus Ponpes Sebut Santri di Mojokerto Tewas Terjatuh Saat jenazah korban akan dimasukkan ke mobil ambulans/Foto file: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Pengurus Ponpes Mambaul Ulum di Mojokerto sempat menampik tewasnya seorang santri akibat dianiaya seniornya. Pengurus berdalih korban tewas akibat terjatuh dari lantai dua asrama santri.

Namun, penyelidikan polisi berkata lain. Bagaimana respons pengurus pondok?

Tewasnya santri Ari Rivaldo (16) akibat terjatuh dari lantai 2 asrama santri dinyatakan oleh Pengurus Pondok Putri Anisatul Fadilah (32) pada Selasa (20/8). Menurut dia, Ari terjatuh dari ketinggian sekitar 10 meter karena kelelahan usai mengikuti lomba gerak jalan HUT ke-74 Kemerdekaan RI.

Namun, pernyataan Fadilah dipatahkan oleh hasil penyelidikan polisi. Kepala Ari ditendang dua kali oleh santri senior berinisial WN (17) di kamar asrama korban, Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, Senin (19/8) tengah malam.


Tendangan pelaku mengakibatkan kepala korban membentur dinding. Sehingga korban tewas akibat tengkorak belakangnya pecah. Polisi menetapkan WN sebagai tersangka penganiayaan yang menewaskan Ari.

Pengurus Pondok Putra PP Mambaul Ulum Mahfudin Akbar (33) mengatakan, pernyataan yang dilontarkan Fadilah saat itu berdasarkan keterangan dari santri lain. Menurut dia, Fadilah sempat menanyakan kronologi kejadian saat berada di depan IGD RSUD Prof Dr Soekandar, Mojosari, Mojokerto pada Selasa (20/8) dini hari. Saat itu Ari sedang menjalani perawatan medis.

"Bilangnya ke Ning Fadilah Ari jatuh dari lantai dua asrama santri," kata pria yang akrab disapa Gus Didin ini saat dihubungi detikcom, Jumat (23/8/2019).

Ia mengaku mendapatkan kabar Ari berada di rumah sakit dari salah seorang ustaz di Ponpes Mambaul Ulum. Menurut dia, pascapenganiayaan terjadi, korban yang terluka parah dibawa WN dan seorang temannya ke RSUD tanpa melapor ke pengurus pondok.


"Karena WN masih di bawah umur, tidak bisa mengurus administrasi di RSUD. Sehingga dia kembali ke pondok membangunkan ustaz, lalu ustaznya yang ngabari saya sekitar pukul 04.00 WIB," ujarnya.

Melihat kondisi Ari terluka parah, Gus Didin mengaku fokus pada penyembuhan korban. Saat korban tewas di RSI Sakinah sekitar pukul 12.00 WIB, dia juga masih disibukkan urusan pemakaman jenazah. Sehingga dia tidak sempat mengorek keterangan lebih dalam terkait luka yang dialami Ari.

"Saya sendiri saat itu tidak bisa memutuskan penyebab Ari meninggal karena apa. Karena belum ada hasil autopsi, olah TKP dan sebagainya," terangnya.

Hasil penyelidikan polisi telah membuat terang penyebab tewasnya Ari. Santri asal Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo itu dianiaya oleh seniornya berinisial WN. Oleh sebab itu, kini Gus Didin hanya bisa pasrah dengan proses hukum yang berjalan.

"Proses hukumnya kami ikuti, pesantren hanya mendamaikan keluarga korban dan pelaku biar Ari tenang. Biaya rumah sakit dan pemakaman sudah difasilitasi pondok," pungkasnya.



Tonton video Para Santri Tunanetra di Temanggung Baca Alquran Braille:

[Gambas:Video 20detik]


(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com