detikNews
Rabu 21 Agustus 2019, 13:20 WIB

Utang Pekerja Rusunawa ke Warung dan Kos Mojokerto Tak Kunjung Ada Solusi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Utang Pekerja Rusunawa ke Warung dan Kos Mojokerto Tak Kunjung Ada Solusi Foto file: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Persoalan utang para pekerja proyek rusunawa ke tiga warung dan dua rumah kos di Kota Mojokerto mencapai Rp 36 juta tak kunjung ada solusi. Pemerintah baru sebatas akan mempertemukan kontraktor dan pimpinan proyek (pimpro) dengan pemilik warung dan rumah kos.

Kabid Perumahan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Mojokerto Muraji mengatakan pihaknya telah menemui pimpro atau pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek rusunawa di Satuan Kerja Nonvertikal Penyediaan Perumahan Jatim di Surabaya, Selasa (20/8). Pada pertemuan itu, dia menyampaikan langsung permasalahan utang para pekerja proyek rusunawa.

Instansi tersebut merupakan kepanjangan tangan Kementerian PUPR. Karena pembangunan gedung rusunawa di Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, itu menjadi tanggung jawab Kementerian PUPR.

Selain itu, lanjut Muraji, pihaknya menawarkan dua alternatif solusi kepada pimpro rusunawa agar persoalan utang para pekerja proyek segera tuntas. Alternatif pertama, pihaknya meminta pimpro rusunawa melunasi utang tersebut.

Saat dana pemeliharaan rusunawa Rp 1 miliar lebih cair September 2019, pimpro bisa menagihnya ke PT Mina Fajar Abadi. Dana pemeliharaan itu dijaminkan kontraktor ke pimpro, sehingga dana itu masih dipegang oleh PPK proyek rusunawa.


Sementara itu, alternatif kedua, pelunasan utang para pekerja proyek rusunawa terpaksa menunggu pencairan dana pemeliharaan September nanti, sehingga para pemilik warung dan rumah kos harus bersabar.

Solusi yang ditawarkan Pemkot Mojokerto tampaknya tidak dipilih oleh pimpro rusunawa. Menurut Muraji, pertemuan di Surabaya sebatas menyepakati akan digelarnya pertemuan dengan pihak-pihak terkait.

"Hasil pertemuan intinya dalam waktu dekat PPK, pihak PT, dan pemilik warung akan ada pertemuan di Dinas Perumahan Kota Mojokerto," kata Muraji kepada detikcom, Rabu (21/8/2019).

Namun waktu pertemuan tersebut sampai saat ini belum ditentukan. Menurut Muraji, tanggal pertemuan masih disusun oleh PPK proyek rusunawa.

Selain itu, tujuan pertemuan ini sebatas agar pihak PPK proyek rusunawa dan PT Mina Fajar Abadi mendengar langsung persoalan utang para pekerja dari tiga pemilik warung dan dua rumah kos.


"Nanti pihak PT sama PPK biar dengar sendiri secara langsung dari pemilik warung. Sebab, yang bermasalah kan mandor sama warung," tandasnya.

Para pekerja proyek rusunawa meninggalkan utang di tiga warung dan dua rumah kos. Utang yang belum dibayar merupakan biaya makan dan tempat tinggal para pekerja selama April-Mei 2019. Padahal saat ini proyek rusunawa telah tuntas.

Utang para pekerja mencapai Rp 36,123 juta. Dengan rincian utang di warung Suliono Rp 15,878 juta, di warung Susi Jayanti (37) Rp 8,299 juta, di warung milik Agus Hartini Rp 9,646 juta. Biaya sewa kamar kos para pekerja juga belum dibayar. Nilainya Rp 1,4 juta di rumah kos Susio dan Rp 900 ribu di rumah kos milik Hari.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com