detikNews
Selasa 20 Agustus 2019, 20:13 WIB

Santri di Mojokerto yang Tewas Dianiaya Senior Sempat Muntah Darah

Enggran Eko Budianto - detikNews
Santri di Mojokerto yang Tewas Dianiaya Senior Sempat Muntah Darah Saat polisi menemukan barang bukti di Ponpes Mambaul Ulum/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Penganiayaan yang menewaskan seorang santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum di Mojokerto diperkuat kesaksian teman satu kamar korban. Saksi menyebut korban sempat ditendang dan dipukul pelaku hingga muntah darah.

Salah seorang saksi mata kasus penganiayaan di Ponpes Mambaul Ulum yakni Putra Gilang Ramadhan (15). Ia santri asal Desa/Kecamatan Menganti, Gresik.

Putra merupakan teman satu kamar sekaligus teman satu kelas korban di SMA Mambaul Ulum, Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari. Dia dengan korban sama-sama duduk di kelas X.

Menurut Putra, penganiayaan ini terjadi pada Senin (19/8) tengah malam. Saat itu dia baru kembali ke kamar asrama ponpes setelah jalan-jalan bersama korban, Ari Rivaldo (16), santri asal Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo.

"Saya juga dipukuli, lalu ditendang. Setelah saya, kemudian korban," kata Putra kepada wartawan di Ponpes Mambaul Ulum, Selasa (20/8/2019).


Putra menjelaskan, penganiayaan ini dilakukan dua santri senior sekaligus kakak kelasnya di SMA Mambaul Ulum. Salah satu pelaku berinisial WN (17), santri kelas XII asal Kecamatan Pacet, Mojokerto.

Dia mengaku dianiaya oleh teman WN. Sementara korban dianiaya oleh WN. Putra tak menyebutkan identitas santri yang memukuli dirinya. Aksi kekerasan itu terjadi di dalam kamar asrama yang dia tempati bersama Ari.

"Korban langsung ditendang saat dia duduk. Ditendang dua kali kena kepalanya. Korban jatuh kemudian dipukul pakai tangan kena dadanya," ungkap Putra.

Aksi penganiayaan ini dilakukan WN dan temannya sebagai hukuman terhadap Putra dan Ari. Kedua santri junior ini dianggap melanggar tata tertib pesantren. Yaitu nekat keluar dari pondok tanpa izin.

Saat Ari dipukuli oleh WN, Putra tak berani melerai. Karena pelaku adalah santri senior yang menjadi semacam petugas keamanan pondok.


"Kondisinya (Ari) muntah darah setelah dipukuli. Dia dibawa ke rumah sakit (RSUD Prof Dr Soekandar di Mojosari), kondisinya tidak sadarkan diri," terangnya.

Dari RSUD, korban dirujuk ke RSI Sakinah di Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Mojokerto. Ari akhirnya tewas saat menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Polisi telah melakukan olah TKP dan meminta keterangan para saksi. Petugas menyita barang bukti berupa kasur lantai, selimut dan pakaian korban yang ada bercak darah. Barang bukti itu ditemukan di dalam ruangan di bawah tangga lantai pertama asrama pondok.

Berdasarkan keterangan saksi, polisi menyatakan Ari tewas akibat dianiaya WN. Pukulan dan tendangan pelaku mengakibatkan kepala korban membentur dinding kamar asrama. Sehingga korban terluka di kepala belakang sebelah kanan.

Saat ini pelaku menjalani pemeriksaan di Unit PPA Satreskrim Polres Mojokerto. Karena pelaku berusia di bawah umur, yaitu 17 tahun. Polisi belum menetapkan WN sebagai tersangka tewasnya Ari. Sementara jenazah korban diautopsi di RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, Sidoarjo.




Tonton Video Taruna ATKP Makassar yang Tewas Dianiaya Senior Dimakamkan:

[Gambas:Video 20detik]


(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com