detikNews
Selasa 20 Agustus 2019, 06:56 WIB

Wow, Petani Blitar Racik Pestisida Organik Ekonomis dan Ramah Lingkungan

Erliana Riady - detikNews
Wow, Petani Blitar Racik Pestisida Organik Ekonomis dan Ramah Lingkungan Pestisida organik/Foto: Erliana Riady
Blitar - Seorang petani di Blitar berhasil meracik pestisida organik. Komposisi yang tepat diterapkan pada tanaman, bisa lebih ekonomis selama proses tanam dan ramah lingkungan.

Pemakaian pestisida kimia yang semakin masif, baik dalam dosis maupun intensitas pemakaian semakin memprihatinkan. Hal ini tidak hanya membuat hama semakin kebal. Namun residu yang ada dalam tanaman juga semakin meningkat.

Menyadari hal ini, Iwan Pitono, seorang penggiat pertanian organik mulai merintis budidaya ramah lingkungan, di Desa Mojorejo. Selama tiga tahun ini dia mulai menekuni dan mempelajari aneka pelatihan dari Departemen Pertanian RI.

"Memang tidak mudah merubah kebiasaan petani untuk ramah lingkungan," kata Iwan kepada detikcom di rumahnya Kecamatan Wates, Selasa (20/8/2019).

Dari ilmu yang didapat, Iwan meracik pestisida organik. Bahan yang digunakan dari nabati atau aneka tumbuhan. Seperti mimba, lerak, daun sirsak, cengkeh dan serai wangi.

"Mimba itu tanaman dengan bahasa latin azadiracta indica. Kandungan utamanya azadiractin, merupakan racun perut, lambung dan mengurangi nafsu makan hama," jelasnya.

Petani Blitar racik pestisida organik/Petani Blitar racik pestisida organik/ Foto: Erliana Riady

Pestisida organik ini sudah diterapkan pada tanaman bunga kol. Perbandingan hasilnya, jika menggunakan pestisida kimia, berdasarkan data benih 500-600 gr dapat dipanen 40-50 hari setelah tanam (hst). Namun dengan penerapan pestisida organik, benih 1 kg bisa dipanen 35-45 hari setelah tanam. Jadi lebih cepat panen.

"Dari segi biaya jauh lebih murah dibanding dengan yang kimia. Salah satu merk pestisida untuk hama ulat 100 ml itu harganya Rp 75-80 ribu. Sedangkan kalau membuat pestisida dari alam, biayanya tidak lebih dari Rp 5000 saja," kata mantan kameramen tivi swasta nasional ini.

Jika di kota besar, hasil bahan pangan pertanian organik mendapat tempat dan harga yang istimewa di swalayan. Namun karena lokasi geografis Kecamatan Wates yang jauh dari perkotaan, Iwan menjual panenannya di pasar lokal. Tentu saja, harganya tak jauh beda dengan pertanian non organik.

"Kalau warga sini sudah mulai paham. Jadi ada beda harganya. Saya masih untung 45 sampai 50 persen. Tapi terpenting, lahan saya jadi ramah lingkungan. Bisa ditanami sampai anak cucu kelak," tandasnya.

Kerja nyata jaringan komunitas pertanian berkelanjutan, kini mulai mendapat perhatian dari konsumen. Seperti Tuti Suhartini, warga Malang yang meluangkan waktu untuk melihat dan membeli langsung hasil tanaman dari Iwan.

"Memang kalau hasil organik itu rasanya lebih enak, awet dan kita tidak kuatir dengan kesehatan kita" tutur Tuti.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com