Bangunan di Petilasan Tribhuwana Tunggadewi Diekskavasi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 19 Agu 2019 18:57 WIB
Bangunan di Petilasan Tribhuwana Tunggadewi Dibongkar/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Petilasan Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi di Mojokerto diekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim. Ekskavasi ini untuk menggali bentuk asli dan fungsi bangunan purbakala yang diperkirakan masih terpendam di tanah.

Petilasan Tribhuwana Tunggadewi ini terletak di tengah sawah Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko. Situs purbakala di dalamnya berupa Yoni, yaitu bangunan dari batu andesit. Yoni menjadi tempat pemujaan pada zaman Majapahit yang menganut Agama Hindu. Bangunan purbakala ini sudah puluhan tahun menjadi jujugan wisatawan.

Kepala Sub Unit Pemanfaatan BPCB Jatim Pahadi mengatakan, kajian ulang ini dilakukan menyusul adanya keinginan warga Desa Klinterejo untuk mengembangkan objek wisata sejarah petilasan Tribhuwana Tunggadewi. Menurut dia, warga ingin bangunan yoni dinaungi dengan cungkup agar tidak cepat rusak terkena panas dan hujan.

Karena Klinterejo masuk Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional, maka warga mengusulkan pembuatan cungkup ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Melalui Direktur Cagar Budaya dan Permuseuman, Kemendikbud menginstruksikan agar lebih dulu dilakukan kajian sebelum cungkup dibangun. Sehingga pembangunan cungkup tidak sampai merusak situs.


"Aspek keaslian situs ini harus dipertahankan, maka perlu kajian. Jadi, kami melakukan kajian untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat yang ingin mengembangkan situs ini," kata Pahadi kepada wartawan di lokasi ekskavasi, Senin (19/8/2019).

Petilasan Tribhuwana Tunggadewi yang kini baru nampak bagian yoni, lanjut Pahadi, dibuat pada tahun 1294 saka atau 1372 masehi. Angka tahun itu terpahat pada salah satu sisi yoni. Ratu Tribhuwana merupakan anak dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Dia juga ibu dari Raja Hayam Wuruk.

"Fungsi yoni pada masa lalu sebagai tempat pemujaan untuk penganut Agama Hindu," ujarnya.

Pahadi memperkirakan, terdapat banyak struktur bangunan yang masih terpendam di sekitar yoni petilasan Tribhuwana Tunggadewi. Hal itu dibuktikan dengan temuan struktur bata merah kuno di sebelah barat dan utara situs ini.


"Struktur tersebut berlanjut ke barat, utara dan selatan. Perkiraan kami luasannya 25 x 25 meter persegi," terangnya.

Proses ekskavasi yang dimulai hari ini, lanjut Pahadi, akan berlanjut sampai 31 Agustus 2019. Pihaknya menerjunkan 4 arkeolog, 6 tenaga penggambar, 3 tenaga dokumentasi, serta 27 tenaga penggali.

Sebagai ekskavasi tahap pertama, para arkeolog akan fokus menggali pada radius sekitar 5 meter sebelah utara dan barat dari bangunan yoni. Kedalaman penggalian direncanakan mencapai 2 meter dari permukaan tanah.

"Nantinya kami juga meminta bantuan arkeolog dari Universitas Negeri Malang untuk menginterprestasikan bentuk dan fungsi situs ini," tandasnya.

Saat ini, seluruh bangunan yang dibuat di sekeliling yoni Klinterejo telah dirobohkan. Karena bangunan tersebut tidak ada hubungannya dengan keaslian petilasan Tribhuwana Tunggadewi. Bahkan para pekerja membongkar lantai di sekitar bangunan yoni. (fat/fat)