detikNews
Rabu 24 Juli 2019, 11:19 WIB

Pelajar di Blitar Terlibat Jaringan Pengedar Pil Koplo Antar Kota

Erliana Riady - detikNews
Pelajar di Blitar Terlibat Jaringan Pengedar Pil Koplo Antar Kota Empat jaringan narkoba diamankan, satu berstatus pelajar/Foto: Erliana Riady
Blitar - Pelajar SMA di Blitar terlibat jaringan pengedar pil koplo antar kota. Ironisnya, ilmu mengedarkan pil memabukkan itu didapat dari kakak kelasnya, alumni sekolah itu juga. Dan pil itu dijual kepada teman-temannya sesama pelajar.

Pelajar itu berinisial RS, warga Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar. Pemuda berusia 18 tahun ini, masih duduk di kelas XII di SMK swasta Kecamatan Kesamben.

RS memakai seragam sekolahnya, saat datang untuk pemeriksaan di Mapolres Blitar. Dari tangannya, polisi mendapatkan sebanyak tiga pil koplo. Karena statusnya masih pelajar, polisi tidak menampilkan wajahnya saat jumpa pers di depan wartawan.

"Dalam kasus peredaran dan penyalahgunaan okerbaya ini, kami amankan empat tersangka. Satu di antaranya masih pelajar. Jadi kami lakukan penindakan khusus, tidak kami ekspos, namun tetap dilakukan penindakan hukum," kata Kapolres Blitar, AKBP Anissullah M Ridha di konfirmasi detikcom, Rabu (24/7/2019).


Selain RS, polisi juga mengamankan Aprindra Candra Saputra (21) dan Alimunain (21). Keduanya warga satu desa dengan RS di Slorok, Doko. Mereka berdua inilah kakak kelas RS yang mengajarinya menggunakan dan mengedarkan pil dobel L, atau istilahnya lele. Polisi juga mengamankan satu pengedar lainnya, yakni Dwi Susanto (25) warga Desa Karangrejo Kecamatan Garum.

"Dari ke empat tersangka ini, kami amankan sebanyak 54 lele dan uang tunai Rp 120 ribu. Mereka mengaku mendapatkan kiriman lele ini melalui sistem ranjau dari luar kota. Tapi kalau gak dapat kiriman, mereka bergantian membeli pil Dextro di apotik. Nah ini yang akan kami dalami apotik mana saja," ungkap kapolres.

Pil koplo yang dijual jaringan ini harganya lebih mahal. Satu pil seharga Rp 20 ribu. Padahal, menurut pengakuan satu tersangka pemakai sekaligus pengedar, dia bisa mendapatkan 40 butir pil sejenis hanya seharga Rp 100 ribu.

"Beda harganya, cuma memang lebih enak. Kalau yang murah itu hanya biar gak ngantuk saat dipakai kerja," ujar Dwi.

Pada empat tersangka pengedar okerbaya ini, polisi akan terapkan Pasal 197 UU RI no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancaman hukumannya, maksimal 9 tahun penjara.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com