detikNews
Rabu 24 Juli 2019, 07:05 WIB

498 Pria di Tulungagung Alami Penyimpangan Orientasi Seksual

Adhar Muttaqin - detikNews
498 Pria di Tulungagung Alami Penyimpangan Orientasi Seksual Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka (Foto: Adhar Muttaqin)
Tulungagung - Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung menemukan ratusan lelaki usia produktif mengalami penyimpangan orientasi seksual atau Lelaki Seks Lelaki (LSL). Fenomena tersebut mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Didik Eka, mengatakan dari pemetaan yang dilakukan selama satu semester terakhir ditemukan 498 LSL. Dari jumlah tersebut 60 persennya merupakan pelajar dalam rentang usia 11 sampai dengan 20 tahun.

"Yang terkecil 11 tahun dan itu sudah berhubungan seks menyimpang," kata Didik Eka, Rabu (24/7/2019).

Pemetaan LSL tersebut dilakukan di tujuh kecamatan meliputi Besuki, Boyolangu, Tulungagung, Kedungwaru, Ngantru, Sumbergempol dan Kecamatan Bandung. Proses pendataan dilakukan dengan melibatkan komunitas LSL secara langsung.

"Sehingga apabila di seluruh Tulungagung kemungkinan jumlahnya akan lebih banyak," ujarnya.

Didik menambahkan jumlah pelaku seks menyimpang tersebut ditengarai mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Dari ratusan LSL itu mayoritas merupakan warga yang masih berusia produktif.


Pihaknya menyebut, munculnya LSL dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya hormonal, lingkungan, pola pengasuhan orang tua, pengetahuan remaja tentang seksual hingga pengetahuan reproduksi.

"Beberapa LSL yang kami temui karena kurang perhatian dari orang tua. Kemudian cara mendidiknya yang salah tentunya, artinya seperti dilarang bergaul dengan lawan jenis, kemudian anaknya main bersolek dibiarkan, memakai pakaian wanita dari kecil dibiarkan," imbuhnya.

Kurangnya perhatian dari orang tua tersebut memiliki peran yang cukup besar terhadap pertimbuhan hormonal sang anak. Terlebih apabila dalam lingkup keluarga tidak ada sosok bapak atau lelaki.

"Sebetulnya fenomena LSL ini sudah ada sejak lama, bahkan beberapa kesenian kita juga ada mengarah ke hal itu, seperti tradisi gembkalan pada seorang warok. Karena kepercayaannya apabila berhubungan dengan wanita maka kesaktiannya akan hilang," ujarnya.

Didik menambahkan, disorientasi seksual yang masuk kategori LSL adalah yang sudah melakikan hubungan seksual sesama jenis antara lelaki dengan lelaki. Kondisi itulah yang kini menjadi perhatian serius dari Dinas Kesehatan Tulungagung karena berpotensi menyebarkan penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS.


"Makanya LSL ini menjadi salah satu bagian penanganan dari dinas kesehatan maupun Komisi Penanggulangan AIDS, karena potensi dia menyebarkan PMS sangat tinggi," imbuhnya.

Didik menambahkan, untuk menangani persoalan itu Dinas Kesehatan Tulungagung akan melakukan rapat koordinasi dengan lintas instansi antara lain PSAI, LPA, KPA, Dinas Sosial hinggga Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

"Kami juga menurunkan tim untuk melakukan sosialisasi tentang reproduksi dan pengetahuan seksual kepada pada pelajar. Kami juga akan menggandeng BP di sekolah agar bisa mendeteksi adanya potensi penyimpangan seksual tersebut," imbuhnya.



Tonton video Kemlu Pastikan Indonesia Tak Kirim Delegasi ke Gay Pride di Luar Negeri:

[Gambas:Video 20detik]


(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com