detikNews
Selasa 23 Juli 2019, 20:20 WIB

Guru yang Cubit Siswa SD di Surabaya dan Wali Murid Saling Memaafkan

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Guru yang Cubit Siswa SD di Surabaya dan Wali Murid Saling Memaafkan SDN Simomulyo I Surabaya/Foto: Deny Prastyo Utomo
Surabaya - Kasus guru cubit murid di Surabaya sampai ke tingkat Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya. Menurut Kadispendik Surabaya Ikhsan, guru yang bersangkutan dan wali murid sudah saling memaafkan.

Dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, Ikhsan mengaku akan mengambil langkah pembinaan dan evaluasi terhadap guru SDN Simomulyo I yang melakukan tindak kekerasan.

"Sudah kami cek ke sekolah, guru ini mengajar Matematika. Karena anak tersebut menemui kendala, kemudian dicubit. Jadi tidak ada pemukulan dan penamparan," kata Ikhsan seperti dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (23/7/2019).


Ia juga menyampaikan, pihaknya masih membutuhkan waktu untuk melakukan pembinaan dan evaluasi terhadap guru tersebut. Kemudian apabila hasil evaluasi memutuskan guru tersebut harus dipindah, maka akan dipindah ke sekolah lain.

Suara wali murid turut menentukan apakah guru perempuan berinisial L itu tetap akan mengajar di SD tersebut atau tidak. Karena jika wali murid menerima dan memaafkan sang guru, maka yang bersangkutan akan tetap mengabdi di SDN Simomulyo I.

"Pihak kepala sekolah sudah memfasilitasi pertemuan guru dengan wali murid. Semuanya sudah saling menerima dan memaafkan. Jadi, kami butuh waktu untuk pembinaan dan evaluasi," pungkasnya


Sebelumnya diberitakan, beberapa wali murid mendatangi sekolah untuk mengadukan tindak kekerasan yang dilakukan L pada anak-anak mereka. Salah satunya Sulistianing Tyas Utami. Ia menyampaikan, ada memar di tangan kanan anaknya karena dicubit sang guru.

Meski sang anak tidak sampai trauma, ia berharap tidak kekerasan seorang guru terhadap murid tidak terulang lagi. Terlebih tahun ajaran 2019-2020 baru saja berjalan.

"Harapan saya, inikan waktunya masih lama. Baru satu mingguan masih butuh jangka satu tahun ke depan. Saya tidak ingin teman-teman anak saya mengalami hal yang serupa. Bahkan dua teman anak saya tidak mau berangkat sekolah karena trauma," pungkas Sulistianing.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com