detikNews
Selasa 23 Juli 2019, 18:27 WIB

Guru yang Cubit Siswa Hingga Trauma dan Enggan Sekolah Dikenal Santun

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Guru yang Cubit Siswa Hingga Trauma dan Enggan Sekolah Dikenal Santun SDN Simomulyo I Surabaya/Foto: Deny Prastyo Utomo
Surabaya - Seorang guru SDN Simomulyo I Surabaya yang diduga mencubit tiga muridnya hingga trauma dan enggan sekolah dikenal santun. Bahkan rekan sesama pengajar kaget saat mendengar kabar tindak kekerasan yang dilakukan guru tersebut.

"Dengan adanya kejadian itu, teman-teman sempat kaget juga. Jadi selama bergaul sesama teman (guru) di sekolah bicaranya santun," kata Koordinator Kesiswaan SDN Simomulyo I Surabaya Marlikan kepada wartawan saat ditemui di SDN I Simomulyo, Selasa (23/7/2019).

Marlikan juga menyampaikan, guru yang diduga melakukan kekerasan terhadap 3 siswanya berinisial L. Guru peremuan tersebut sudah mengajar di SDN Simomulyo I Surabaya sejak 2009.


"Selama ini, baru kali ini kejadian ada wali murid yang datang teman-teman kaget. Istilahnya orang sebaik itu kok melakukan seperti ini," ujar Marlikan.

Menurutnya dalam setiap pertemuan, para guru diimbau untuk mengajar secara santun. Seorang guru tidak dibenarkan melakukan tindak kekerasan kepada muridnya. Termasuk mencubit anak didik.

"Setiap pertemuan kedinasan ataupun di sekolah selalu diimbau untuk itu," imbuh Marlikan.

Tiga siswa yang mengalami tidak kekerasan dari L merupakan siswa kelas 4. Dua di antaranya enggan masuk sekolah lantaran trauma dicubit sang guru saat salah dalam mengerjakan tugas.


Hari ini, beberapa wali murid mendatangi sekolah untuk mengadukan kejadian tersebut. Salah satunya Sulistianing Tyas Utami. Ia menyampaikan, ada memar di tangan kanan anaknya karena dicubit sang guru.

Meski sang anak tidak sampai trauma, ia berharap tidak kekerasan seorang guru terhadap murid tidak terulang lagi. Terlebih tahun ajaran 2019-2020 baru saja berjalan.

"Harapan saya, inikan waktunya masih lama. Baru satu mingguan masih butuh jangka satu tahun ke depan. Saya tidak ingin teman-teman anak saya mengalami hal yang serupa. Bahkan dua teman anak saya tidak mau berangkat sekolah karena trauma," pungkas Sulistianing.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com