detikNews
Senin 22 Juli 2019, 14:35 WIB

Bagaimana Limbah Abu yang Bakar Bocah SD di Mojokerto Sampai ke Petani?

Enggran Eko Budianto - detikNews
Bagaimana Limbah Abu yang Bakar Bocah SD di Mojokerto Sampai ke Petani? Limbah abu yang membakar tangan dan kaki bocah kelas 2 SD (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto - Pabrik Gula (PG) Gempolkrep di Mojokerto telah menerjunkan tim untuk mengecek timbunan limbah abu yang membakar kedua tangan dan kaki bocah kelas 2 SD. PG memastikan abu tersebut pupuk bio kompos. Begini kronologi abu sampai ke tangan petani.

Manajer Pengolahan PG Gempolkrep Abdul Azis Purmali mengatakan pihaknya telah mengecek langsung timbunan limbah abu di tepi jalan Dusun Kedungbulus, Desa Watesprojo, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto. Menurut Aziz, abu yang membakar kedua tangan dan kaki Nizam Dwi Pramana (8) adalah pupuk bio kompos yang diproduksi PG Gempolkrep tahun 2012-2014.

"Warnanya sebelumnya hitam, karena sudah sejak Oktober 2017 di lokasi, kemungkinan bercampur dengan pembakaran sampah dedauanan di lokasi sehingga warnanya berubah menjadi abu-abu," kata Azis kepada wartawan di kantornya, Senin (22/7/2019).

Azis menjelaskan pupuk bio kompos diproduksi PG Gempolkrep menggunakan campuran blotong dan abu mesin ketel uap. Blotong merupakan hasil sampingan dari proses pemurnian gula. Sementara abu mesin ketel uap berasal dari ampas tebu kering yang dibakar untuk menghasilkan uap.


"Blotong dan abu ketel uap melalui proses fermentasi dengan penambahan mikroba menjadi pupuk bio kompos. Bagus untuk tanaman juga aman buat lingkungan," ujarnya.

Kendati aman buat lingkungan, Manajer Keuangan PG Gempolkrep Sugianto menyatakan bio kompos tak sembarangan diberikan ke para petani. Pihaknya hanya memberikan pupuk secara gratis kepada petani yang lebih dulu mengajukan permintaan secara tertulis.

Terkait pupuk bio kompos yang membakar kaki dan tangan Nizam, lanjut Sugianto, dibeli Abdul Hadi, tokoh Kelompok Tani Dusun Kedungbulus dari Tarbin, petani asal Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg pada Oktober 2017. Tarbinlah yang mendapatkan pupuk tersebut secara langsung dari PG Gempolkrep. Tarbin juga tercatat sebagai pensiunan pegawai PG Gempolkrep.

"Terkait ada harga sampai Rp 600 ribu per rit itu mungkin karena biaya pengiriman dan sebagainya. Yang pasti kami memberikan ke para petani secara gratis," terangnya.

Produksi pupuk bio kompos, kata Sugianto, dihentikan sejak tahun 2014. Menurut dia, rendahnya minat dari para petani tebu menjadi penyebabnya. Efek positif penggunaan pupuk organik tersebut memang tidak bisa langsung dirasakan petani. Sehingga mayoritas petani memilih mengunakan pupuk kimia.


Sejak produksinya dihentikan, tambah Sugianto, abu ketel uap dan blotong dibuang melalui perusahaan rekanan. "Pihak ketiga wajib punya ruang penampungan yang cukup," ungkapnya.

Kapolsek Kemlagi AKP Eddie Purwo Santoso membenarkan pupuk bio kompos dibeli Abdul Hadi dari Tarbin pada Oktober 2017. "Pengakuan dari Abdul Hadi seperti itu, dia beli dengan harga Rp 600 ribu per rit untuk pupuk," tandasnya.

Kedua tangan dan kaki Nizam terbakar setelah terperosok ke timbunan pupuk bio kompos di tepi jalan Dusun Kedungbulus. Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, timbunan abu berwarna abu-abu itu menjadi panas akibat adanya orang yang membakar sampah dedaunan di lokasi. Sampai saat ini petugas masih menyelidiki pelakunya.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com