detikNews
Sabtu 20 Juli 2019, 13:28 WIB

Limbah Abu yang Bakar Bocah SD di Mojokerto dari Pabrik Gula, Tapi...

Enggran Eko Budianto - detikNews
Limbah Abu yang Bakar Bocah SD di Mojokerto dari Pabrik Gula, Tapi... Limbah abu yang membakar tangan dan kaki bocah SD di Mojokerto/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Limbah abu yang membakar kedua tangan dan kaki bocah kelas 2 SD di Mojokerto bersumber dari Pabrik Gula (PG) Gempolkrep. Hanya saja, PG di bawah naungan PTPN X itu selama ini tidak pernah membuang limbah tersebut ke permukiman penduduk.

Manajer Sumber Daya Manusia (SDM) sekaligus Humas PG Gempolkrep Syaiful Affandi mengatakan, limbah abu berasal dari sisa pembakaran pada mesin ketel dalam proses produksi gula. Abu tersebut lebih dulu ditampung dalam kolam abu sampai dingin.

Pembuangan baru dilakukan PG Gempolkrep saat kolam penampungan abu over kapasitas. Menurut Syaiful, selama ini pihaknya bekerjasama dengan sebuah perusahaan untuk membuang limbah abu tersebut.

"PG Gempolkrep tidak pernah membuang abu sisa pembakaran di sembarang tempat, apalagi di sekitar pemukiman penduduk. Kami tidak pernah melayani perorangan karena kami kerjasama dengan sebuah PT," kata Syaiful saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/7/2019).

Syaiful menjelaskan, PG Gempolkrep membayar sejumlah uang kepada perusahaan untuk membuang limbah abu pembakaran. Menurut dia, perusahaan tersebut mempunyai tempat penampungan khusus di Desa/Kecamatan Jatirejo, Mojokerto. Sayangnya, dia enggan menyebutkan nama perusahaan dan biaya yang dikeluarkan.


"Infonya (limbah abu) bisa untuk pupuk. Kalau pemanfaatan kami tidak tahu, sebab untuk pembuangan tersebut kami membayar," terangnya.

Abu yang merupakan limbah dari PG Gempolkrep ternyata juga ditemukan di tepi jalan Dusun Kedungbulus, Desa Watesprojo, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto. Timbunan limbah inilah yang membakar kedua tangan dan kaki bocah Nizam.

Kapolsek Kemlagi AKP Eddie Purwo Santoso menyatakan, limbah abu dimanfaatkan kelompok tani Dusun Kedungbulus untuk pupuk. Oleh para petani, abu dicampur dengan tanah, lalu digunakan untuk menyemaikan benih padi.

Menurut Eddie, limbah abu tersebut bersumber dari PG Gempolkrep. Namun, tokoh kelompok tani Dusun Kedungbulus, Abdul Hadi membelinya dari perantara.

"Abdul Hadi belinya tidak langsung ke PG. Dia beli dari seseorang, saya lupa namanya, seharga Rp 600 ribu per rit," tandasnya.


Eddie menuturkan, timbunan limbah abu bisa membakar kedua tangan dan kaki Nizam lantaran terkena bakaran sampah. Sehingga bagian dalam abu menjadi panas.

Korban terperosok ke dalam timbunan abu yang masih panas. Sayangnya sampai saat ini pelaku pembakaran belum ditemukan.

"Belum ketemu, soalnya warga setempat tidak ada yang tahu. Masih kami cari," tegasnya.

Nizam terperosok ke limbah abu saat memungut botol air mineral. Kedua kaki siswa kelas 2 SDN Watesprojo ini terbakar abu yang saat itu membara. Kedua tangannya ikut terbakar karena tercelup abu tersebut.

Saat ini Nizam dirawat di RSUD RA Basuni. Luka bakar paling parah pada pergelangan kaki kiri korban. Saking panasnya abu tersebut, sandal yang dipakai korban ikut meleleh. Luka bakar itu telah dioperasi.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com