detikNews
Sabtu 20 Juli 2019, 12:12 WIB

Jaran Goyang, Sastra Lisan Suku Using Banyuwangi yang Jadi Tarian

Ardian Fanani - detikNews
Jaran Goyang, Sastra Lisan Suku Using Banyuwangi yang Jadi Tarian Tarian Jaran Goyang/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Banyuwangi dikenal kaya dengan tradisi dan seni budaya. Tak jarang, kesenian muncul dari lingkungan yang ada.

Termasuk sastra lisan yang biasa disebut mantra. Dari mantra pengasihan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk tarian. Salah satunya Jaran Goyang.

Tarian ini dilakonkan sepasang muda-mudi. Tarian ini mengisahkan tentang percintaan antara kedua pelakon itu. Sang wanita, tak mau menerima cinta sang pria. Kemudian, sang pria merapalkan mantra pengasihan Jaran Goyang yang ditujukan pada sang wanita. Dalam waktu singkat sang wanita bertekuk lutut kepada sang pria.

"Ini merupakan kekayaan sastra Suku Using yang dinamakan santet. Santet bukanlah mantra untuk menyakiti. Tapi pengasihan dan cinta kasih antara muda mudi Banyuwangi," ujar Aekanu Haryono, salah satu budayawan Banyuwangi kepada detikcom di Sanggar Genjah Arum, Kemiren, Jumat (19/7) malam.

Aekanu dengan tegas mengatakan santet bukanlah ilmu yang menyakiti atau membunuh. Kata santet merupakan akronim dari 'mesisan gantet' yang berarti sekalian bersatu atau bisa juga 'mesisan bantet' atau sekalian rusak. Hal ini merujuk dari fungsi sosial mantra santet Jaran Goyang untuk menyatukan dua orang agar bisa menikah.


"Banyuwangi memiliki tradisi lisan bentuk mantra dulu menyebut santet identik dengan hal jelek. Padahal santet itu bagaimana saling mencintai menghormati dan menghargai," tambahnya.

Ia juga menjelaskan, nama Jaran Goyang diambil dari perilaku kuda yang sulit dijinakkan. Namun jika sudah jinak maka kuda sangat mudah dikendalikan.

"Sama dengan perasaan cinta. Awalnya susah dikendalikan tapi kalau sudah jatuh cinta tidak jarang bisa membuat gila. Memang korban terbanyak adalah perempuan walaupun tidak menutup kemungkinan laki-laki juga bisa terkena santet Jaran Goyang," paparnya.
Tarian Jaran Goyang/Tarian Jaran Goyang/ Foto: Ardian Fanani
Menurut Aekanu, dalam tarian ini ada pesan moral bagi para penontonnya. Pesan ini muncul dari tarian saat sang wanita menghina sang pria dan enggan menjadi pujaan hatinya. Hal itu cukup membuat tertantang sang pria untuk menaklukkan sang wanita dengan mantra Jaran Goyang.

"Pesan moral jangan menghina, jangan menyepelekan orang. Dari santet itu ada saling cinta dan hormat. Tentu tidak sembarangan menggunakan mantra ini harus dengan hal yang positif," lanjutnya.


Tarian ini diciptakan pada tahun 1966. Tarian ini dulunya ditarikan oleh banyak orang dengan menunjuk dua penari sebagai pemeran utama dalam tarian itu. Namun seiring dengan perkembangan waktu, tarian ini hanya dilakonkan 2 orang.

Dhea, salah satu pengunjung Sangar Genjah Arum mengaku takjub dengan tarian Jaran Goyang. Tarian ini sangat mudah untuk diterjemahkan.

"Bagus sih. Gampang diterjemahkan. Saya baru tahu jika Jaran Goyang itu mantra pengasihan dari Banyuwangi. Tahunya sebelumnya malah dari lagu dangdut itu," ujar pengunjung asal Jakarta.

Selain menjadi tarian, Jaran Goyang juga menginspirasi sebuah lagu dalam Bahasa Using yang berjudul Jaran Goyang yang sempat populer pada tahun 2000-an dan dinyanyikan oleh penyanyi Banyuwangi Adistya Mayasari. Bahkan di 2017, Nella Karisma juga menyanyikan lagu berjudul Jaran Goyang yang juga terinspirasi dari mantra Jaran Goyang.

Hingga saat ini, mantra Jaran Goyang yang menjadi bagian dari sastra lisan masih memiliki fungsi sosial di lingkungan masyarakat Banyuwangi khususnya Suku Using. Termasuk juga tari Jaran Goyang yang masih sering ditampilkan di pementasan kesenian di Kabupaten Banyuwangi.



Tonton video Unjuk Gigi Desainer Lokal di Banyuwangi Fashion Festival:

[Gambas:Video 20detik]


(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com