detikNews
Jumat 19 Juli 2019, 17:36 WIB

Tradisi Larung Kepala Kerbau di Trenggalek Digelar Tiap Jumat Kliwon

Adhar Muttaqin - detikNews
Tradisi Larung Kepala Kerbau di Trenggalek Digelar Tiap Jumat Kliwon Tradisi Larung Kepala Kerbau/Foto: Adhar Muttaqin
Trenggalek - Para nelayan di dua kecamatan Trenggalek menggelar tradisi larung kepala kerbau untuk mengenang jasa Ki Ageng Menak Sopal. Dia yang telah memprakarsai dan membangun Dam Bagong untuk mengairi area persawahan warga.

Tradisi diawali dengan mengarak potongan kepala kerbau beserta tulang dan kulit dari rumah sesepuh Desa Ngantru, Kecamatan Trenggalek menuju komplek TPU Bagong. Dalam arak-arakan itu turut serta dibawa aneka tumpeng lengkap dengan lauk pauk.

Usai dilakukan prosesi seremonial dan pembacaan sejarah Dam Bagong. Potongan kepala kerbau tersebut dibawa ke lokasi dam guna dilalukan pelarungan.

Sejumlah warga setempat yang telah menunggu di bagian bawah dam langsung menceburkan diri ke saluran pembuangan untuk mencari kepala kerbau, tulang serta kulit yang dilarung. Pencarian inilah yang menjadi tontonan menarik dari masyarakat, sebab para pemburu kepala kerbau itu saling berkompetisi dengan cara menyelam hingga ke dasar sungai.

"Kepala kerbau ini nanti rencananya mau saya jual. Kalau yang lain biasanya dimasak sendiri," kata Tohari, warga yang berhasil mendapatkan kepala kerbau.

Sementara Ketua Panitia Larung, Gunarji, mengatakan tradisi larung kepa kerbau tersebut rutin digelar satu tahun sekali pada hari Jumat Kliwon bulan Selo dalam penanggalan Jawa. Sedangkan potongan kepala kerbau merupakan simbolisasi pengorbanan seperti yang dilakukan oleh pendiri Dam Bagong Ki Ageng Menak Sopal.


"Seperti yang disampaikan dalam legenda Menak Sopal dalam rangka membuat Dam Bagong, perlu ditumbali gajah putih. Sekarang mencari gajah putih tidak mungkin, seingga diganti kerbau ini," kata Gunarji.

Dalam tradisi turun temurun ini, panitia tidak semata-mata membuang kepala kerbau ke dalam dam untuk, namun dalam praktiknya, setelah kerbau disembelih dagingnya dimasak dan dimakan bersama-sama.

"Sedangkan larung ini hanya simbolisasi saja, tapi sebetulnya kepala itu diberikan kepada warga untuk dimasak," jelasnya.

Para petani mengaku bersyukur atas adanya bangunan dam tersebut, karena bisa dimanfaatkan oleh ribuan nelayan yang ada di Kecamatan Trenggalek dan Pogalan untuk mengairi sawahnya. Bahkan aliran Sungai Bagong tetap bisa dimanfaatkan oleh petani.

Sementara Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin, mengatakan tradisi tersebut sebagai salah satu upaya untuk mengenang dan bentuk penghargaan terhadap Menak Sopal. Pembangunan dam yang dirintis sejak abad 16 itu kini masih tetap bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

"Kita menghormati leluhur, khususnya Menak Sopal yang sudah membangun dam sejak abad ke 16 dan mengairi sawah di trenggalek dan pogalan, kita mengucapkan syukur," kata Arifin.

Pihaknya mengaku tidak akan menghilangkan tradisi ini, namun justru akan menjadikan larung sebagai salah satu kegiatan untuk menarik wisatawan dengan dikemas lebih besar dan menarik.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com