detikNews
Rabu 17 Juli 2019, 20:07 WIB

Ahmad Dhani Ajukan Banding Berharap Vonis 1 Tahun Penjara Dibatalkan

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Ahmad Dhani Ajukan Banding Berharap Vonis 1 Tahun Penjara Dibatalkan Ahmad Dhani saat divonis 1 tahun penjara/Foto file: Deny Prastyo Utomo
Surabaya - Ahmad Dhani divonis 1 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Surabaya pada 11 Juni lalu. Tak terima dengan vonis tersebut, Dhani mengajukan memori banding meminta vonis itu dibatalkan.

Kuasa hukum Ahmad Dhani Sahid mengatakan, pihaknya telah memasukkan memori banding ke Pengadilan Tinggi Jatim sejak Senin (15/7).

"Sudah kita masukkan sejak Senin kemarin dengan tanda terima akta memori banding nomor 275/akta Pid.Sus/PN Sby," kata Sahid di Surabaya, Rabu (17/7/2019).

Dalam kesempatan yang sama Sahid menyampaikan, dalam berkas memori setebal 17 halaman itu ada beberapa alasan mengapa Dhani meminta dibebaskan. Menurut Sahid, alasan ini cukup kuat.


Salah satunya, 9 pengacara Dhani menganggap judex facti atau hakim keliru menerapkan hukum pembuktian. Hal ini menyebabkan hakim saat menjatuhkan pidana dianggap tidak didasarkan ketentuan hukum acara pembuktian yang berlaku sebagaimana aturan pasal 183 KUHAP.

"Judex facti hanya menyimpulkan sendiri tanpa pertimbangan hukum atas alat bukti yang ada. Sehingga putusan tersebut patut untuk dibatalkan," ungkap Sahid.

Tak hanya itu, para kuasa hukum Dhani menganggap hakim keliru dalam menerapkan pembuktian dakwaan tunggal Pasal 27 ayat (3) UU ITE. Menurut Sahid, hakim telah mengabaikan adanya keterkaitan antara keberlakuan Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP.

"Pasal 27 ayat 3 UU ITE itu tidak bisa berdiri sendiri. Namun pasal tersebut terikat dengan pasal 310 dan pasal 311 KUHP. Hal ini berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor: 50/PUU-VI/2008 tertanggal 5 Mei 2009, yang menyatakan: keberlakuan dan tafsir atas Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak dapat dipisahkan dari norma hukum pokok dalam Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP sebagai genus delict yang mensyaratkan adanya pengaduan (klacht) untuk dapat dituntut," paparnya.


Sahid juga menilai hakim telah melakukan amputasi pendapat ahli. Baik dari ahli pidana maupun ahli ITE.

Dalam putusannya saat itu, pertimbangan hukum hakim dianggap tidak lengkap. Itu karena tidak memuat secara utuh keterangan saksi-saksi, terdakwa juga bukti lainnya.

"Misalnya begini, judex facti mengutip pendapat dari Ahli Hukum Pidana, Dr Yusuf Jacobus Setyabudhi. Namun, pendapat ahli tersebut tidak diambil secara utuh, diamputasi, dipotong-potong, dan membuat kesimpulan sendiri," lanjut Sahid.

Sahid berharap hakim Pengadilan Tinggi akan menerima permohonan banding Ahmad Dhani. Selain itu, ia juga berharap hakim akan membatalkan putusan vonis selama satu tahun pada Dhani.

"Kami berharap hakim ditingkat banding akan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Surabaya," pungkasnya.


Ahmad Dhani Ajukan Banding Berharap Vonis 1 Tahun Penjara Dibatalkan


Simak Video "Klarifikasi Mulan Jameela soal Tudingan Pura-pura Telepon"
[Gambas:Video 20detik]

(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com