detikNews
Rabu 17 Juli 2019, 17:34 WIB

Penyebaran Stiker Jalur Belakang UB Diduga Didalangi Pasutri asal Surabaya

Muhammad Aminudin - detikNews
Penyebaran Stiker Jalur Belakang UB Diduga Didalangi Pasutri asal Surabaya Universitas Brawijaya (UB)/Foto: Muhammad Aminudin
Malang - Sepasang suami istri di Surabaya diduga menjadi dalang penyebaran stiker yang menawarkan jalur belakang penerimaan jalur mandiri untuk masuk Universitas Brawijaya (UB). Jika ada keterlibatan oknum dalam kasus tersebut, pihak kampus akan memberikan sanksi tegas.

"Delapan orang yang menyebar brosur dan stiker diminta oleh Heri dan Kyla. Mereka pasangan suami istri di Surabaya," ujar salah satu Tim Hukum Universitas Brawijaya Prija Djatmika kepada wartawan di gedung rektorat Universitas Brawijaya Jalan Veteran, Kota Malang, Rabu (17/7/2019).

Prija menyampaikan, Heri bersama istrinya diduga kuat sebagai otak dari sindikat percaloan dengan modus menyebar stiker jalur belakang itu. Seperti pengakuan salah satu penyebar stiker yang tertangkap satpam UB, MA (23). Sebelum di UB, mereka juga sudah beraksi di Universitas Pancasila Jakarta ketika digelar seleksi jalur mandiri 2019 untuk Universitas Gajahmada.

"Otaknya Heri itu bersama istrinya. Kelompok ini juga beraksi di Universitas Pancasila. Ketika digunakan UGM untuk menggelar seleksi jalur mandiri," sebut Prija.


Pasutri itu, lanjut Prija, diduga kuat berada di Surabaya. Sebab ketika selesai beraksi di Jakarta, mereka kemudian berkumpul di Surabaya sebelum berangkat menuju UB.

"Jadi sebelum ke sini (Universitas Brawijaya) mereka rapat dulu di Surabaya. Rupanya, pasutri itu tinggal di sana," ujar Prija.

Delapan penyebar brosur dan stiker di UB masing-masing diberi upah Rp 300 ribu. Lebih kecil dibandingkan saat beraksi di Jakarta.

"Penyebar brosur dan stiker dibayar Rp 300 ribu, tetapi di Jakarta lebih besar Rp 500 ribu per orang," ungkap dosen Fakultas Hukum ini.


Mengapa Universitas Brawijaya jadi target sindikat ini? Menurut Prija itu karena Brawijaya merupakan favorit dan memiliki peminat terbanyak dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019.

"Brawijaya masuk kampus favorit, 10 besar. Makanya dijadikan sasaran sindikat ini. Termasuk UGM dengan modus yang sama. Karenanya Sindikat ini harus dibongkar," harapnya.

Dalam kesempatan itu, Prija berharap kepolisian membongkar sindikat penipuan ini. Agar masyarakat tidak termakan iming-iming yang dijanjikan.

"Karena Universitas Brawijaya sudah tegas, jalur mandiri lolos hanya melalui seleksi. Siapapun yang terlibat percaloan, maka akan disanksi dengan pencopotan," terangnya.

"Makanya, kami sangat mengharapkan polisi bisa membongkar kasus ini. Jika terbukti ada keterlibatan oknum, maka rektor akan memberikan sanksi itu," pungkasnya.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com