detikNews
Rabu 17 Juli 2019, 08:41 WIB

Inovasi Mahasiswa ITS Ini Bisa Bantu Selesaikan Persoalan Peternak Udang

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Inovasi Mahasiswa ITS Ini Bisa Bantu Selesaikan Persoalan Peternak Udang Foto: Humas ITS
Surabaya - Kurangnya efisiensi pemberian pakan dalam proses budidaya udang menjadi masalah bagi para petambak udang saat ini. Mengingat permintaan yang terus meningkat namun biaya pakan udang yang lebih dari setengah total biaya membuat petambak kesulitan.

Menilik kondisi ini, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan teknologi Smart Shrimp Counter (SSC), sebuah Autonomous Surface Vehicle (ASV) atau kapal tanpa awak penghitung entitas udang berbasis underwater image processing sebagai solusi persoalan tersebut.

Adalah Chrisna Aditya Pamungkas, Thomas Teguh Rahardjo, Ridwan Prasetyo, Zahrah Ayu Afifah Febriani, dan Rizky Najwa yang memelopori terciptanya teknologi ini. Chrisna Aditya Pamungkas selaku ketua tim mengungkapkan, permintaan udang di wilayah Jawa Timur dari tahun ke tahun terus meningkat.

Pada 2014 lalu Jawa Timur telah memasok udang vannamei sebanyak 47.150 ton, dan pada tahun yang sama total nilai ekspor udang di Indonesia mencapai USD 1,7 miliar.


Smart Shrimp Counter (SSC)Smart Shrimp Counter (SSC) Foto: Humas ITS

"Udang jenis ini (vannamei) memiliki serat dan daging yang banyak, sehingga sangat digemari oleh konsumen," ujar Chrisna dalam rilis yang diterima detikcom melalui Humas ITS, Rabu (17/7/2019).

Alih-alih menjadi peluang usaha yang menjanjikan, kondisi ini malah membuat petambak udang kesulitan karena modal budidaya udang yang tinggi, khususnya ongkos produksi yang tinggi.

Chrisna mengungkapkan, selama ini biaya pakan yang dikeluarkan oleh petambak udang mencapai 60 sampai 70 persen dari total biaya budidaya udang. Hal tersebut, menurut Chrisna, disebabkan oleh pemberian pakan yang hanya didasarkan pada perkiraan jumlah bibit yang dimasukkan ke dalam kolam tanpa tahu jumlah pasti dari udang dalam kurun umur tertentu saat budidaya.

"Akibatnya, pakan yang diberikan sangat banyak dan tidak terukur, dan akhirnya menyebabkan pembengkakan anggaran," papar mahasiswa Departemen Teknik Mesin Industri ini.

Chrisna mengatakan pemberian pakan yang banyak kepada udang bukanlah suatu hal yang positif. Hal itu menjadi negatif karena berpotensi menyebabkan overfeeding atau pemberian pakan yang berlebih. Padahal, overfeeding akan menyebabkan senyawa organik yang terdapat di dalam kolam akan meningkat, sehingga menyebabkan kematian pada udang.

"Begitu pula sebaliknya. Apabila pakan yang diberikan kurang, akan menyebabkan udang bersifat kanibal," papar mahasiswa asal Tuban ini.

Oleh karena itu, diperlukan suatu alat guna mengetahui jumlah pakan ideal agar budidaya udang dapat maksimal. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2019, Chrisna dan keempat rekannya bekerjasama dengan Tambak Safi'i, sebuah tambak di daerah Keputih, Sukolilo, Surabaya sebagai mitra untuk menyelesaikan persoalan ini.

Di bawah bimbingan Dr Ir Bambang Sampurno MT, tim ini berhasil menciptakan sebuah solusi berupa teknologi SSC, yakni sebuah kapal tanpa awak penghitung jumlah entitas udang menggunakan underwater image processing meliputi Image Enhancement, Image Recognition, dan Object Counting.

Chrisna kembali menjelaskan, kapal dengan sistem navigasi Waypoint ini dilengkapi mikrokontroler dan kamera beresolusi tinggi yang tahan terhadap air pada bagian bawah kapal, sehingga mampu mendeteksi jumlah entitas udang meskipun di air keruh.


Kapal ini akan bekerja dengan mengelilingi tambak untuk menghitung entitas udang dan kemudian hasil perhitungan akan ditampilkan pada sebuah software yang telah disiapkan.

"Selain itu, akan disuguhkan pula rekomendasi pemberian pakan udang, sehingga dihasilkan rekomendasi terbaik untuk pemberian pakan udang yang efisien" kata Chrisna.

Meskipun sudah ada metode lain guna menghitung entitas udang yaitu menggunakan sebuah alat dengan prinsip snapshot kamera pada sebuah wadah. Namun, hasil perhitungan yang dihasilkan tidak valid karena hanya dapat dilakukan saat udah masih berupa bibit.

Selain itu, alat ini juga hanya dapat digunakan dalam skala kecil karena ukurannya yang kecil pula. Chrisna berharap, dengan diciptakannya alat ini akan dihasilkan rekomendasi perlakuan kolam yang ideal untuk budidaya udang vannamei, menghitung jumlah entitas udang agar dapat memberikan jumlah pakan yang ideal, serta meningkatkan efisiensi pemberian pakan.

"Dengan demikian produktivitas budidaya udang di Indonesia, khususnya Jawa Timur dapat meningkat pula," harapnya.

Simak Video "Perjuangan Penulis Skripsi 3.045 Halaman: Tak Mandi hingga Tak Tidur"
[Gambas:Video 20detik]

(iwd/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com