detikNews
Sabtu 13 Juli 2019, 13:41 WIB

3.156 Program Layanan Publik Se-Indonesia, 5 Inovasi Banyuwangi Masuk Top 99

Ardian Fanani - detikNews
3.156 Program Layanan Publik Se-Indonesia, 5 Inovasi Banyuwangi Masuk Top 99 Bupati Anas/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Lima program Pemkab dan Polres Banyuwangi masuk jajaran Top 99 Inovasi Pelayanan Publik dari Kemenpan-RB. Empat program inovasi dari pemkab dan satu program inovasi Polres Banyuwangi dinilai terbaik dari total 3.156 inovasi se-Indonesia.

Empat program dari Pemkab Banyuwangi tersebut adalah program Rantang Kasih, Banyuwangi Festival, Banyuwangi Mall, dan Chips. Sementara untuk Polres Banyuwangi adalah program Babinkamtibmas Respon Pengaduan Setiap Pelayanan Publik (Barisan Siap).

Kelimanya sudah dipaparkan di depan juri independen diketuai JB Kristiadi, dengan anggota antara lain akademisi Prof Eko Prasodjo, Ketua YLKI Tulus Abadi, akademisi Wawan Sobari, praktisi Neneng Gunardi, dan praktisi komunikasi Suryopratomo, di ruang Sriwijaya pada Kantor Kemenpan RB, Sabtu (13/7/2019).

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas bersyukur telah melakukan pemaparan 4 program dari Pemkab Banyuwangi. Seluruh program itu untuk kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat Banyuwangi. "Inovasi-inovasi tersebut telah kami kami paparkan di depan juri-juri independen," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat dihubungi detikcom.

Menurut Anas, pemerintah selalu dihadapkan pada keterbatasan dan tantangan-tantangan, mulai soal anggaran, SDM, kewenangan, hingga waktu. Keterbatasan dan tantangan itu lantas melahirkan dua hal jalan keluar, yaitu inovasi dan kolaborasi. "Inovasi dan kolaborasi banyak pihak membuat pelayanan publik bisa dilakukan dengan lebih baik," ujarnya.

Anas mencontohkan program "Rantang Kasih" yang merupakan program pemberian makanan bergizi setiap hari kepada warga lanjut usia miskin secara gratis. Total ada 3.017 warga lansia yang menjadi sasaran program tersebut.


"Inovasi itu lahir dari tantangan permasalahan sosial warga lanjut usia nonproduktif. Tidak bisa dengan stimulus modal, misalnya, karena sudah berumur, bahkan ada lansia di atas 90 tahun. Maka negara hadir dengan solusi yang bersifat praktis yaitu kebutuhan makan sehari-hari," jelas Anas.

Dalam program "Rantang Kasih", sambung Anas, pelibatan dokter dan ahli gizi dilibatkan dengan menyupervisi makanan yang diberikan. "Misalnya, lansia yang punya riwayat hipertensi, tentu diberikan makanan yang rendah garam. Juga tidak boleh daging merah. Itu hasil supervisinya. Karena kalau tidak disupervisi, makanan Rantang Kasih bukannya menjaga kesehatan lansia, malah akan membuat hipertensinya kambuh," papar Anas.

Inovasi, lanjut Anas, tentu saja tidak cukup. Maka perlu kolaborasi. Dalam program "Rantang Kasih", misalnya, melibatkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Banyuwangi dan dana dari pemerintah desa.

"Karena dalam perkembangannya, mungkin ada lansia baru yang belum ter-cover. Atau ada laporan dari medsos. Maka kami libatkan Badan Zakat dan pemerintah desa. Jadi selain didanai APBD, juga ada keterlibatan publik, menjadi gerakan sosial yang membangun empati seluruh rakyat," jelasnya.

Kapolda Jatim dan Kapolres Banyuwangi/Kapolda Jatim dan Kapolres Banyuwangi/ Foto: Ardian Fanani

Kolaborasi juga dilakukan bersama warung-warung yang menjadi penyedia makanan. Warung-warung itu berada tak jauh dari lokasi rumah lansia sasaran. Para pemilik warung kini tak hanya memandang program itu secara komersial.

"Warung-warung menjadikan program ini sebagai bentuk sedekah. Tak jarang mereka mengirim tambahan bonus menu harian untuk lansia di luar pagu anggaran yang ditetapkan. Bahkan ojek pengantar sering tak meminta bayaran. Mereka mengaku ini sedekah sederhana yang bisa mereka lakukan," jelas Anas.

Program-program inovatif Pemkab Banyuwangi mendapat apresiasi Ketua Tim Juri Prof JB Kristiadi. Upaya memberi perhatian kepada warga lansia adalah inovasi yang berhasil menyentuh empati publik.

"Ada keutamaan Banyuwangi, mereka mengutamakan lansia. Ini akan memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan pada mereka. Jadi biar mereka secara ekonomi mungkin kurang, tapi merasa sejahtera dan bahagia," gelar Kristiadi yang meraih gelar doktor Administrasi Publik dari Sorbonne University, Perancis.


Sementara pemaparan juga dilakukan oleh Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufik Herdiansah Zeinardi dan Bhabinkamtibmas Polsek Sempu, Brigadir Oki Heru. Didampingi Kapolda Jatim Irjen Pol Luky Hermawan, keduanya menjelaskan program Babinkamtibmas Respon Pengaduan Setiap Pelayanan Publik (Barisan Siap) diperuntukkan bagi masyarakat yang ada dipelosok.

Salah satunya adalah pembuatan rumah singgah untuk mempermudah masyarakat yang kurang mampu dan berada jauh dari pusat pelayanan kesehatan. Program ini merupakan keroyokan antara puskesmas setempat dan Pemkab Banyuwangi.

"Rumah singgah bagi bumil risti tersebut dibangun di Dusun Krajan, Jambewangi, Sempu, yang merupakan wilayah tepi hutan dan desa terdekat dengan Gunung Raung. Cerita rumah singgah tersebut bermula dari kiprah Bhabinkamtibmas Polsek Sempu, Brigadir Oki Heru, berinisiatif mengajak semua pihak bergotong-royong membangun rumah singgah. Bersama dengan kader kesehatan Puskesmas yang telaten melayani bumil risti, Brigadir Oki menggunakan rumahnya sebagai tempat singgah," ujar Kapolres Taufik.

Ditambahkan Brigadir Oki, adanya rumah singgah di pinggir hutan itu bisa menekan kematian ibu dan bayi. "Adanya rumah singgah bisa menekan kematian ibu hamil dan bayi. Selain itu Barisan Siap ini juga merukunkan masyarakat yang berkonflik karena permasalahan pilkades sejak zaman dahulu.

"Sebelumnya kematian ibu melahirkan ada 16 dan kematian bayi 22, sekarang zero disana," tandasnya.

Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Luky Hermawan mengatakan, adanya terobosan dan Inovasi yang dilakukan oleh Polres Banyuwangi merupakan bentuk kerja keras Polri dalam merubah paradigma anggota Polri.

"Tentunya ini merupakan kehormatan bagi Polri khususnya Polda Jatim. Pada kesempatan ini, kami mendampingi Polres Banyuwangi terkait Inovasi Barisan Siap (Bhabinkamtibmas Respon Pengaduan Setiap Permasalahan Publik). Inovasi Barisan Siap ini adalah merangkul semua tokoh yang selama ini berseteru untuk duduk bersama dalam rangka membantu bidan desa menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. Hasilnya, disepakati dengan membangun rumah singgah (shelter) untuk transit ibu hamil yang mau melahirkan dari tengah hutan, sekaligus bhabinkamtibmas dinobatkan sebagai koordinatornya," ujarnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed