detikNews
Kamis 27 Juni 2019, 09:19 WIB

Saran Dinas Peternakan Blitar untuk Peternak Saat Harga Ayam Anjlok

Erliana Riady - detikNews
Saran Dinas Peternakan Blitar untuk Peternak Saat Harga Ayam Anjlok Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Blitar/Foto: Erliana Riady
Blitar - Anjloknya harga ayam di titik terendah sejak tahun 2010, membuat ratusan peternak rakyat gulung tikar. Menanggapi hal ini, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Pemkab Blitar menyarankan peternak rakyat bergabung saja sebagai kemitraan dengan pabrik pakan (Integrator).

Data dari Disnakkan Pemkab Blitar, dari sekitar 3.500 peternak broiler, hanya sekitar 100 peternak yang bertahan secara mandiri. Selebihnya, sudah lama menjalin kemitraan dengan para pabrik pakan.

"Kalau kemitraan, peternak hanya menyediakan lahan dan tenaga. Jadi ketika harga anjlok, mereka gak nanggung rugi sendirian. Gak akan habis modal. Makanya saya anjurkan, peternak rakyat gabung saja kemitraan biar tetap bisa usaha dibidang ini," kata Kepala Disnakkan Pemkab Blitar Adi Andaka pada detikcom, Kamis (27/6/2019).

Menurut Adi, sebanyak apapun modal peternak mandiri, akan kalah bersaing dengan pemodal besar yang masih menentukan harga pasar. Karena regulasi pemerintah pusat saat ini, masih menyerahkan harga komoditas ayam sepenuhnya pada pasar.

Selain itu, pemodal besar yang bisnis ayamnya mengerjakan dari hulu sampai hilir secara terintegrasi. Sehingga, peternak mandiri punya ketergantungan tinggi pada beberapa produk mereka. Seperti pakan, vaksin dan jalur distribusi.


"Sebenarnya kalau peternak Blitar dengan populasi sekitar 3 juta ekor, itu hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Blitar saja. Tapi kita harus realistis. Walaupun dalam skup lokal, kalau yang dominan dan monopoli usaha ini skupnya nasional gak mungkin peternak mandiri mampu bertahan," bebernya.

Adi menampik anggapan jika sarannya ini bertentangan dengan azas ekonomi kerakyatan. Karena pada kenyataannya, lebih baik menyelamatkan usaha rakyat kecil ini dari kebangkrutan. Daripada bertahan tidak gabung kemitraan, namun usahanya tidak dapat bertahan lama.

"Azas itu masih sebatas teori. Karena regulasi pemerintah pusat di perunggasan belum sepenuhnya mendukung azas itu terealisasi," imbuh Adi.

Bagi Adi yang baru dua bulan menjabat kadisnakkan, solusi tercepat untuk menyelamatkan usaha rakyat adalah bergabung dalam kemitraan.

"Miris lho saya kalau dengar peternak mandiri sampai kehilangan rumah, habis tabungan karena bertahan idealis tidak ikut kemitraan. Lha daripada kandangnya kosong akibat bangkrut sekarang, kan lebih baik gabung kemitraan," pungkasnya.



Tonton juga video Penyiksaan Ayam di Peternakan Australia Terekam Kamera:

[Gambas:Video 20detik]


(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed