detikNews
Selasa 25 Juni 2019, 06:59 WIB

Seniman Tulungagung Hidupkan Kembali Seni Sandiwara Bahasa Jawa

Adhar Muttaqin - detikNews
Seniman Tulungagung Hidupkan Kembali Seni Sandiwara Bahasa Jawa Seni sandiwara di Tulungagung/Foto: Adhar Muttaqin
Tulungagung - Pada era 90-an seni pertunjukan ketoprak, ludruk hingga kentrung menjadi favorit masyarakat Tulungagung dan sekitarnya. Untuk membangkitkan kembali seni teater tradisional, sebuah kelompok seniman menggelar sandiwara berbahasa jawa keliling desa.

Pementasan drama itu dilakukan kelompok seniman asal Tulungagung yang tergabung dalam Teater Gayeng. Dalam pementasannya, para seniman lokal tersebut memperagakan adegan demi adegan secara langsung di hadapan ratusan penonton.

Malam itu, gelak tawa dan tepuk tangan penonton berulangkali terdengar di halaman kantor Kecamatan Pagerwojo, saat pada aktor memperagakan adegan-adegan jenaka. Pentas sandiwara tradisional tersebut mendapat sambutan yang meriah dari warga sekitar, terlebih pementasannya menggunakan bahasa lokal, sehingga lebih dekat dengan budaya setempat.

Sutradara Teater Gayeng, Trias Untung Kurniawan mengatakan, upaya membangkitkan kembali kesenian tersebut dilandasi atas keprihatinan dan kecintaannya terhadap seni pertunjukan yang sempat eksis di Tulungagung, seperti Ketoprak Siswo Budoyo. Namun kini kesenian ketoprak tinggalah kenangan dan mati tergerus perkembangan zaman.


"Dalam sandiwara ini kami beri judul 'Ngenthit' yang berarti korupsi. Di mana dalam sandiwara itu seorang juragan batik yang tidak menguasai pemasaran menyerahkan pengelolaan usahanya kepada adiknya," kata Trias, Selasa (25/6/2019).

Namun dalam perjalanannya, sang adik yang diberikan kepercayaan justru melakukan korupsi untuk memperkaya diri sendiri. Kisah tersebut diangkat dari fragmen babat Tulungagung dengan yang berisi kisah asmara antara Kembang Sore dengan Lembu Peteng.

"Kemudian ada tokoh antagonis yakni Adipati Kalak. Nah pada sandiwara itu juga menampilkan babak yang mirip dengan babat Tulungagung, karena dasar pokok ceritanya dari situ. Kemudian kami urai dengan bebas dengan berbagai diskusi serta riset," imbuhnya.

Menurutnya, upaya membangkitkan kembali ketenaran seni teater bukan perkara mudah. Terlebih apabila kiblatnya adalah kejayaan Ketoprak Siswo Budoyo maupun ludruk. Namun ia lebih mengambil semangat dari seni yang pernah jaya.


Trias menambahkan, dalam rangkaian pertunjukan tersebut ia keliling di tiga lokasi yakni Kecamatan Pagerwojo, Desa Desa Kendalbulur Kecamatan Boyolangu serta Desa Sidorejo Kecamatan Kauman.

Direktur Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Restu Gunawan mendukung penuh upaya para seniman lokal, yang berusaha membangkitkan seni pertunjukan di daerahnya.

"Ini sebenarnya adalah bagaimana kita membangun ekosistem kebudayaan sesuai dari amanat Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, itu penting. Bagaimana membangun hubungan antara seniman, masyarakat pemerintah daerah dan pemerintah pusat," kata Restu.

Terlebih munculnya semangat memajukan kebudayaan berasal dari daerah yang dahulu menjadi pusat-pusat kesenian. Yakni Tulungagung, Temanggung dan Gunungkidul. Pihaknya berharap hal tersebut menjadi contoh bagi daerah-daerah lain maupun masyarakat sekitar untuk mandiri dalam berkesenian.

"Harapannya masyarakat sini nanti bisa melakukan sendiri. Kami ingin membangun ownership. Ketika rasa kepemilikan itu sudah ada di masyarakat, maka akan tumbuh dengan sendirinya niat untuk membesarkan. Sehingga kebudayaan akan semakin maju," pungkasnya.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed