detikNews
Senin 24 Juni 2019, 18:37 WIB

Warga Tuduh Perusahaan Ini Cemari Sungai Hingga Berubah Warna dan Bau

Muhajir Arifin - detikNews
Warga Tuduh Perusahaan Ini Cemari Sungai Hingga Berubah Warna dan Bau Baliho protes pencemaran sungai oleh warga Pasuruan/Foto: Muhajir Arifin
Pasuruan - Sejumlah warga Desa Gununggangsir dan Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan melakukan protes pada sejumlah perusahaan. Sejumlah perusahaan dituding mencemari sungai dengan limbah.

Protes dilakukan dengan cara memasang baliho di Sungai Selokambang, Desa Gununggangsir dan Sungai Selowaran di Desa Cangkringmalang. Aksi protes dilakukan karena air kedua sungai itu berubah warna dan berbau busuk. Warga menuntut sejumlah perusahaan bertanggungjawab.

Baliho yang dipasang di tepi Sungai Selokambang ditujukan ke 4 perusahaan sekaligus. Baliho tersebut bertuliskan pesan agar perusahaan tak lagi mencemari sungai.

"Bilang sama PT Baramuda Bahari, PT Mega Marine Pride, PT Universal Jaya Kemas, PT Wonokoyo, jangan cemari sungai kita dengan bau basin limbahmu!!! Warga Selokambang menolak keras buang sampah sembarangan!!! UU No. 32 Th 2009 Tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan," demikian bunyi tulisan baliho itu.


Demikian pula baliho yang dipasang Sungai Selowaran, bertema serupa. "Sampaikan salam rindu kami kepada: PT Wonokoyo, PT Mega Marine Pride, PT Universal Jaya Kemas, PT Baramuda Bahari, bahwa kami warga Selowaran rindu akan sungai kami yang seperti dulu. Sungai yang bersih, sungai yang tidak berbau," demikian isi tulisan yang dibubuhkan.

"Protes lewat baliho ini sebenarnya karena warga sudah capek melakukan aksi demo dan lainnya. Warga sudah beberapa kali aksi namun perusahaan tetap melakukan pencemaran," kata Mukharom, warga Desa Cankringmalang di lokasi, Senin (24/6/2019).

Mukharom sebelumnya memimpin sejumlah demonstrasi menuntut tanggungjawab perusahaan karena dinilai mencemari sungai. "Kami minta DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kabupaten Pasuruan tegas soal ini. Sudah 12 tahun lebih sungai tercemar tapi tak ada tindakan tegas," kata Mukharom.

Beberapa waktu lalu, sembari memasang baliho warga juga melakukan aksi teatrikal. Aksi tersebut menggambarkan penderitaan warga karena bau busuk sungai.


"Dulu sungai ini bisa buat mandi, sekarang tak bisa dipakai apapun," imbuh Mukharom.

Aksi pasang baliho ini merupakan aksi yang kesekian kali. Sebelumnya warga beberapa kali melakukan demonstrasi ke perusahaan yang dimaksud. Terakhir aksi pada Kamis (21/2), berujung pada penutupan paksa saluran pembuangan limbah pabrik yang ada di Desa Wonokoyo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Lubang pembuangan yang disebut warga lubang siluman milik beberapa perusahaan ditutup dengan pasir yang dimasukkan ke kantong. Sehari kemudian, penutup lubang dibuka setelah warga diajak berunding.

"Namun lagi-lagi mereka mengingkari poin-poin kesepakatan, sehingga kami protes lagi," pungkas Mukharom.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed