detikNews
Senin 24 Juni 2019, 16:45 WIB

Sistem Zonasi Disebut akan Hapus Label Sekolah Favorit, Benarkah?

Amir Baihaqi - detikNews
Sistem Zonasi Disebut akan Hapus Label Sekolah Favorit, Benarkah? PPDB di SMA 6 Surabaya (Foto: Amir Baihaqi/File)
FOKUS BERITA: Ruwet PPDB Zonasi
Surabaya - Salah satu tujuan PPDB dengan sistem zonasi adalah menghapus label sekolah favorit. Lalu apakah dengan diberlakukan jalur zonasi label sekolah favorit benar-benar akan terhapus?

Waka Humas SMAN 6 Surabaya Yatimin berpendapat ada atau tidak adanya sistem zonasi tetap tidak akan menghapus secara otomotis label sekolah favorit. Karena yang berubah hanya peluang akses masuk yang lebih merata.

"Kalau menurut saya mungkin tidak seperti dulu ya. SMA favorit hanya danem-danem tinggi saja yang bisa. Kalau tahun ini dengan zonasi tetap ada peluang bagi mereka yang secara nilai tidak terlalu bagus tetapi semangat sekolah (harus) tetap tinggi," kata Yatimin kepada detikcom, Senin (24/6/2019).

"Jadi (label) favorit bagi saya tetap ada. Tetapi layanan kepada mereka yang secara akademik kurang akan menjadi terlayani atau lebih merata," imbuhnya.


Selain tidak akan menghapus label favorit, terang Yatimin, sistem zonasi nantinya akan mempunyai dampak plus minus bagi guru. Salah satunya guru akan bekerja lebih keras untuk mengajar terutama untuk siswa dengan nilai UN rendah tetapi diterima karena faktor jarak rumahnya.

"Bagi guru, kami harus siap berjibaku untuk mengajar putra putri masyarakat yang mungkin dulu-dulu yang tidak pernah ke SMP 6 misalnya. Karena danemnya rendah dan sebagainya. Dan sekarang karena kenyataannya seperti itu kita harus siap secara mental dan fisik untuk menggembleng mereka dengan kualitas yang sama dengan yang lain," terang Yatimin.

Senada dengan Yatimin, salah seorang wali murid Siti Nurul (45) juga menilai adanya zonasi tidak berpengaruh dengan penghapusan sekolah favorit. Sebab meskipun ada zonasi namun siswa dengan nilai UN masih diberi kesempatan untuk diterima melalui jalur UN sebesar 20 persen.

"Ya tetap ada (sekolah favorit). Nah ini saya mendaftarkan anak saya. Awalnya ikut zonasi umum tertolak karena jarak rumah. Karena nilai UN anak saya tinggi akhirnya secara otomatis masuk ke jalur UN. Dan alhamdulillah keterima," kata Nurul usai mendaftarkan putrinya di SMAN 6.


Sedangkan untuk sisi plus dan minusnya, Nurul menilai sisi baiknya akses pendidikan saat ini bisa merata dan bisa diakses siapa saja. Sedangkan untuk sisi negatifnya, ia mengkhawatirkan nilai UN tidak lagi menjadi patokan sehingga semangat siswa akan menurun karena beranggapan rumahnya dekat dengan sekolah negeri atau favorit.

"Minus itu untuk anak yang akademiknya rendah bisa keterima di sekolah negeri. Sedangkan yang nilainya bagus tapi jaraknya jauh kalah. Sisi plusnya ada pemerataan akses pendidikan. Tapi kan karena memang yang diharapkan itu (pemerataan akses)," pungkas Nurul.

Mendikbud Muhadjir Effendy menyebut penerapan PPDB sistem zonasi bertujuan untuk menghapus label sekolah favorit.

"Iya (PPDB menghapus label sekolah favorit), yang favorit itu harus anak. Jadi setiap sekolah, semua sekolah nanti harus bagus, harus favorit, standar pelayanan minimum harus terpenuhi," ujar Muhadjir.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini justru menilai jika label sekolah favorit dipertahankan, maka akan menjadi persoalan tersendiri terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Misalnya akan ada kastanisasi di setiap jenjang sekolah.

"Kalau sudah terjadi kastanisasi, ada sekolah favorit, ada sekolah buangan, dan ini lah tugas negara untuk menghilangkan karena itu bertentangan dengan rasa keadilan. Jadi kalau ada yang komplain itu pasti, padahal ini juga sudah kita antisipasi," kata Muhadjir.


Simak Juga "Cara SMA 8 Jakarta Hindari Antrean PanjangPPDBZonasiCara SMA 8 Jakarta Hindari Antrean Panjang PPDB Zonasi":

[Gambas:Video 20detik]


(fat/iwd)
FOKUS BERITA: Ruwet PPDB Zonasi
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed