detikNews
Rabu 19 Juni 2019, 20:13 WIB

Ini Dalih Ketua Komisi 3 DPRD Mojokerto Soal Dugaan Penipuan Rekrutmen PNS

Enggran Eko Budianto - detikNews
Ini Dalih Ketua Komisi 3 DPRD Mojokerto Soal Dugaan Penipuan Rekrutmen PNS Ketua Komisi 3 DPRD Kabupaten Mojokerto Aang Rusli Ubaidillah/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Setelah sempat mangkir, Ketua Komisi 3 DPRD Kabupaten Mojokerto Aang Rusli Ubaidillah memenuhi panggilan polisi untuk mengklarifikasi kasus dugaan penipuan rekrutmen PNS. Kepada petugas, Aang berdalih uang yang ia diterima dari korban merupakan pinjaman.

Aang datang seorang diri ke kantor Sat Reskrim Polres Mojokerto di Jalan Gajah Mada sekitar pukul 09.00 WIB. Pemeriksaan Politikus Partai Demokrat ini berlangsung hingga pukul 11.30 WIB.

Sayangnya, Aang enggan memberikan komentar kepada wartawan terkait kasus yang sedang menjeratnya. "Sudah saya sampaikan ke polisi, silakan tanya sendiri," kata Aang sembari masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan kantor Sat Reskrim Polres Mojokerto, Rabu (19/6/2019).

Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Muhammad Solikhin Fery menjelaskan, kasus dugaan penipuan rekrutmen PNS dengan terlapor Aang masih dalam tahap penyelidikan. Hari ini Aang dimintai klarifikasi terkait laporan korban.


Dalam klarifikasinya, lanjut Fery, Aang menyatakan uang yang dia terima dari korban adalah pinjaman. Namun, dia enggan menjelaskan lebih rinci lantaran menjadi materi penyelidikan.

"Poinnya dia mengakui itu sebagai pinjaman. Keterangan dia seperti itu," terangnya.

Keterangan yang dilontarkan Aang, diakui Fery berbeda dengan pernyataan saksi dan korban. Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan konfrontasi keterangan korban dengan Aang pada minggu depan.

"Nanti kami konfrontasi, masing-masing keterangan didukung bukti apa," imbuhnya.


Terdapat 3 orang yang mengaku menjadi korban dugaan penipuan oleh Aang. Mereka adalah Mudji Rokhmat (63), warga Dusun Pandansili, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Siti Khoyumi (52), warga Dusun Sambisari, Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, serta Irwan Siswanto (39), warga Jalan Melati, Perumda, Sooko, Mojokerto.

Mudji dan Siti diminta Aang membayar agar anak mereka menjadi PNS di lingkungan Pemkab Mojokerto. Sementara Irwan diminta Aang membayar agar keponakannya menjadi pegawai honorer di Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto. Namun, janji Aang sampai kini tak terealisasi. Padahal, uang telah mereka bayarkan ke Aang.

Mudji menyetorkan uang Rp 65 juta secara langsung di rumah Aang dalam dua tahap. Berdasarkan bukti kwitansi yang disimpan kuasa hukum korban, uang Rp 50 juta diserahkan ke Aang pada 20 Mei 2015, sedangkan Rp 15 juta diserahkan 17 Juni 2015.

Sementara Siti menyerahkan uang Rp 70 juta secara langsung ke Aang pada 4 Maret 2018. Namun, kwitansi bermaterai yang dia siapkan tak ditandatangani oleh Aang. Korban Irwan menyerahkan uang Rp 28 juta kepada Aang. Ketiga korban pun kompak menyewa pengacara untuk menempuh jalur hukum. Mereka melaporkan Aang ke Polres Mojokerto pada 4 April 2019.


(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed