detikNews
Selasa 18 Juni 2019, 19:29 WIB

75 Kabupaten/Kota Berlabel Smart City Dievaluasi Kemenkominfo

Ardian Fanani - detikNews
75 Kabupaten/Kota Berlabel Smart City Dievaluasi Kemenkominfo Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI melakukan evaluasi terhadap gerakan smart city yang telah dijalankan 75 kabupaten/kota di Indonesia. Hal ini dilakukan agar Kabupaten/Kota yang berlabel Smart City ini bisa memperbaiki diri.

Evaluasi tersebut digelar selama 3 hari, mulai Selasa - Kamis (18 - 20/6/2019), di Hotel Aston, Banyuwangi.

Sasaran evaluasi ini adalah kabupaten/kota yang masuk dalam gerakan smart city pada tahun 2017 dan 2018. Dimulai pada tahun 2017, gerakan ini telah menjangkau 75 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sementara untuk tahun 2019 ini, ada 25 kabupaten/ kota baru yang berniat masuk menjadi smart city.

Dijelaskan Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kemenkominfo, Heri Abdul Azis, kegiatan ini merupakan bentuk evaluasi implementasi smart city yang kota tersebut sepakat untuk membangun. Evaluasi menurut Heri, tidak sebagai penghakiman berhasil atau gagalnya penerapan Smart City.

"Apa pun hasilnya, yakinkan bahwa kita akan memperbaiki diri, meningkatkan kualitas dan keberadaan layanan terhadap masyarakat tersebut. Bukan masalah lolos atau tidak, tapi apa yang harus kita perbaiki di masa mendatang," jelas Heri dalam pembukaan kegiatan ini, Selasa (18/6/2019).


Heri mengatakan, ada beberapa parameter yang harus dijaga atas program smart city yang digulirkan masing-masing daerah. Parameter tersebut diantaranya, Komitmen, Kolaborasi dan Public Partnership.

"Ada beberapa parameter yang harus kita jaga. Yang pertama adalah komitmen. Contohnya Banyuwangi yang berkomitmen untuk memberi izin pendirian hotel bagi hotel yang mau menyematkan ciri khas Banyuwangi di desain hotelnya. Kedua, kolaborasi. Kita tidak bisa berdiri sendiri tanpa bekerjasama dan sharing dengan pihak lain. Ketiga adalah public partnership atau partisipasi publik," ujar Heri.

Lewat evaluasi yang juga menggandeng Kementerian Dalam Negeri tersebut, kata Heri, Kabupaten/kota akan dievaluasi berdasarkan beberapa indikator, di antaranya Smart Branding, Smart Mobility dan Smart Environment.

"Smart Branding yakni bagaimana mereka membranding daerahnya. Smart mobility yaitu bagaimana program tersebut berjalan. Smart environment bagaimana dampaknya terhadap lingkungan atau masyarakat sekitar," tambahnya.

Mereka pun akan mendapatkan informasi tentang kecerdasan apa saja yang perlu ditingkatkan atas program smart city yang telah dijalankannya. Dan yang perlu digarisbawahi adalah tujuan utama gerakan smart city adalah pola pikir untuk memunculkan inovasi daerah.

"Tidak harus bidang teknologi informasi, inovasi juga terbuka untuk dibangun di bidang lain. Kami akan menyampaikan kecerdasan apa saja yang nanti perlu ditingkatkan atau diperbaiki di masing-masing daerah," ujar Heri.

Kenapa Banyuwangi yang dipilih untuk penyelenggaraan program ini?. Menurut Heri, Banyuwangi dipilih sebagai tempat evaluasi, agar masing-masing peserta bisa melihat sendiri inovasi yang telah dibangun di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa ini.

"Pepatah bilang, Seeing is Believing. Inovasi yang dilakukan Banyuwangi itu sederhana tapi bisa menginspirasi banyak orang. Contoh dengan pesatnya pertumbuhan destinasi pariwisata di Banyuwangi. Dengan datang ke sini, kabupaten/kota lainnya bisa melihat bagaimana proses perubahan yang dilakukan Banyuwangi. Ini satu bukti nyata yang bisa meningkatkan motivasi kita," imbuh Heri.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan Pemkab Banyuwangi, Choiril Ustadi Yudawanto menyambut baik penyelenggaraan evaluasi smart city yang diadakan di Banyuwangi ini.


"Ini merupakan kebanggaan sekaligus tantangan bagi Banyuwangi untuk terus memperbaiki diri," ujarnya.

Ustadi pun kemudian membeberkan mengapa Banyuwangi lebih memilih smart kampung sebagai kendaraan untuk memberikan pelayanan kepada warga.

"Kenapa pilihannya smart kampung? Karena di desa-desa di Banyuwangi banyak warga yang tidak bisa menggunakan teknologi informasi. Untuk menyelesaikan surat-surat pun mereka harus datang ke kantor kabupaten, yang jaraknya jauh dari tempat tinggal mereka. Akhirnya di program 100 hari setelah Bupati Banyuwangi menjabat, yang dilakukan adalah pemasangan 1.500 titik wifi sebagai percepatan layanan pada masyarakat," cerita Ustadi.

Hingga sekarang pun, imbuhnya, apa yang dibangun Banyuwangi seperti akses, atraksi dan ameniti menjadi supporting bagi smart kampung. Yakni diantaranya dengan pembuatan mal pelayanan publik.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed