DetikNews
Rabu 12 Juni 2019, 18:55 WIB

Penyelidikan Kasus Penipuan Rekrutmen PNS di Mojokerto Kembali Bergulir

Enggran Eko Budianto - detikNews
Penyelidikan Kasus Penipuan Rekrutmen PNS di Mojokerto Kembali Bergulir Foto: Enggran Eko Budianto/File
Mojokerto - Sempat berhenti karena Pemilu 2019, penyelidikan kasus penipuan dengan modus rekrutmen PNS diduga dilakukan Ketua Komisi 3 DPRD Mojokerto Aang Rusli Ubaidillah kembali bergulir. Polisi memanggil Aang untuk diklarifikasi terkait laporan korbannya.

Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP Muhammad Solikhin Fery mengatakan, penyelidikan kasus penipuan yang diduga dilakukan Aang sempat dihentikan karena momen Pemilu 2019. Terlebih lagi Aang tercatat sebagai salah satu Caleg DPRD Kabupaten Mojokerto dari Partai Demokrat.

Karena Pileg telah usai, maka penyelidikan kasus ini dilanjutkan. Polisi baru mengakomodir laporan satu korban. Yaitu Mudji Rokhmat (63), warga Dusun Pandansili, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.

"Yang melapor satu karena punya bukti kwitansi (pembayaran uang ke Aang). Dua orang lainnya yang mengaku sebagai korban minim bukti," kata Fery saat dihubungi detikcom, Rabu (12/6/2019).

Sampai saat ini, lanjut Fery, pihaknya telah meminta keterangan dari 5 saksi. Antara lain pelapor, korban kedua Siti Khoyumi (52), warga Dusun Sambisari, Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, serta 3 orang yang melihat langsung penyerahan uang Rp 65 juta oleh Mudji kepada Aang. Kwitansi penyerahan uang tersebut disita sebagai barang bukti dalam kasus ini.


"Sekarang kami menginjak ke terlapornya. Kami layangkan panggilannya hari ini untuk tanggal 18 Juni 2019," terangnya.

Fery menjelaskan, kasus dugaan penipuan ini masih pada tahap penyelidikan. Oleh sebab itu, pemanggilan terhadap Aang untuk mengklarifikasi dugaan penipuan bermodus rekrutmen PNS yang dituduhkan korban.

"Ini pemanggilan pertama, statusnya (Aang) masih terlapor," ujarnya.

Jika pekan depan Aang mangkir, tambah Fery, pihaknya akan melayangkan panggilan terkahir. Pihaknya tetap akan menaikkan status kasus ini ke tahap penyidikan meski Aang menolak diklarifikasi.

"Tidak ada masalah kalau dia tidak datang. Lidik kan sifatnya undangan untuk memberikan klarifikasi, kalau dia menjawab lebih bagus," tandasnya.


Terdapat 3 orang yang mengaku menjadi korban dugaan penipuan oleh Aang. Mereka adalah Mudji Rokhmat (63), warga Dusun Pandansili, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Siti Khoyumi (52), warga Dusun Sambisari, Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, serta Irwan Siswanto (39), warga Jalan Melati, Perumda, Sooko, Mojokerto.

Mudji dan Siti diminta Aang membayar agar anak mereka menjadi PNS di lingkungan Pemkab Mojokerto. Sementara Irwan diminta Aang membayar agar keponakannya menjadi pegawai honorer di Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto. Namun, janji Aang sampai kini tak terealisasi. Padahal, uang telah mereka bayarkan ke Aang.

Mudji menyetorkan uang Rp 65 juta secara langsung di rumah Aang dalam dua tahap. Berdasarkan bukti kwitansi yang disimpan kuasa hukum korban, uang Rp 50 juta diserahkan ke Aang pada 20 Mei 2015, sedangkan Rp 15 juta diserahkan 17 Juni 2015.

Sementara Siti menyerahkan uang Rp 70 juta secara langsung ke Aang pada 4 Maret 2018. Namun, kwitansi bermaterai yang dia siapkan tak ditandatangni oleh Aang. Korban Irwan menyerahkan uang Rp 28 juta kepada Aang. Ketiga korban pun kompak menyewa pengacara untuk menempuh jalur hukum. Mereka melaporkan Aang ke Polres Mojokerto pada 4 April 2019.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed