Cerita Petugas STC Ketapang 7 Tahun Tak Berlebaran dengan Keluarga

Cerita Petugas STC Ketapang 7 Tahun Tak Berlebaran dengan Keluarga

Ardian Fanani - detikNews
Kamis, 06 Jun 2019 13:15 WIB
Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Hari Raya Idul Fitri menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk berkumpul dengan keluarga. Namun, tidak bagi petugas informasi Shop Traffic Controle (STC) Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi. Mereka harus tetap bekerja tepat pada hari Lebaran tiba.

Seperti halnya Gatot Subrata (52). Petugas informasi Shop Traffic Controle (STC) Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi, ini rela tidak berlebaran bersama keluarganya demi melayani para pengguna jasa penyeberangan untuk mengatur jadwal kapal menyeberang.

Meski gema takbir berkumandang, Gatot tetap sibuk di depan meja yang terdapat layar monitor kontrol penyeberangan. Warga Kelurahan Pengantigan, Banyuwangi ini sedang mengamati jalannya alur kapal dan mempersiapkan jadwal kapal selanjutnya.

Sebagai petugas informasi STC, Gatot selalu siap siaga memantau aktivitas setiap kapal yang melakukan pelayaran dari Ketapang hingga Gilimanuk ataupun sebaliknya. Aktivitas di ruangan ini, menjadi kegiatan seharian yang dilakukannya untuk memantau pergerakan kapal dalam setiap detik selama 12 jam.

Selama 7 tahun, Gatot tak bisa berlebaran bersama keluarga, karena aktivitas pekerjaannya menuntut dirinya bertanggung jawab mengatur arus lalu lintas pelayaran.

"Sudah 7 tahun tidak bisa berlebaran dengan keluarga. Ini sudah resiko pekerjaan. Dan harus kita lakukan," ujarnya kepada detikcom, Kamis (6/6/2019).

Cerita Petugas STC Ketapang 7 Tahun Tak Berlebaran dengan Keluarga Foto: Ardian Fanani

"Ya suka dukanya kita harus meninggalkan keluarga, karena kepentingan dinas bahwa kami harus melayani untuk penyeberangan Pelabuhan Ketapang Gilimanuk ini semaksimal mungkin," tambahnya.

Keputusan untuk menjadi petuags STC tersebut rupanya disertai dengan konsekuensi yang baginya tidak pernah dibayangkan. Semenjak menjadi petugas STC, ia harus merelakan waktu untuk terus menerus berada di ruangan guna mengatur pelayaran kapal untuk arus mudik dan balik.

"Memang ada protes kadang dari keluarga bahwa setiap kali lebaran bapake ndak bisa berangkat untuk liburan atau ke rumah nenek. Jadi memang itulah salah satu suka dukanya kalau kita lagi dinas di pelabuhan. Kalau untuk mudik ataupun liburan pulang kampung hampir sekitar 7 tahun, tanggung jawab kita karena melayani pengguna jasa juga melayani pengaturan jadwal kapal," kata Gatot.

Padatnya arus kendaraan di lintasan Selat Bali dari pelabuhan Ketapang Banyuwangi ke pelabuhan Gilimanuk, Bali pada arus lebaran ini merupakan beban sekaligus tanggung jawab yang tinggi. Keselamatan para pengguna jasa penyeberangan merupakan sebuah tugas baginya dan tidak bisa ditinggalkan.

Ia berharap, meskipun dirinya tidak bisa merayakan lebaran bersama keluarganya, namun dirinya sangat bahagia menjalankan tugas mengatur jadwal kapal yang melayani pemudik untuk merayakan lebaran dan liburan bersama keluarga.

"Apabila kapal ada kendala jadi kami tidak bisa tinggalkan STC. Dulu pernah dinas di Lombok Timur, Kayangan. Sama juga jadi STC. Semoga ini menjadi ibadah saya dalam bertugas. Doa kami cuma satu, keselamatan pengguna jasa penyeberangan," pungkasnya. (bdh/bdh)
Berita Terkait