detikNews
Senin 27 Mei 2019, 04:00 WIB

Tongklek, Musik Patrol Ala Lamongan yang Kini Jadi Festival

Eko Sudjarwo - detikNews
Tongklek, Musik Patrol Ala Lamongan yang Kini Jadi Festival Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan - Salah satu kesenian yang kerap ditampilkan saat bulan Ramadhan adalah kesenian musik patrol. Di Lamongan, utamanya di daerah Pantura Lamongan, berkembang seni musik yang hidup subur dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Kesenian tersebut adalah Kesenian Musik Tongklek.

Di Lamongan, kesenian Tongklek digunakan oleh warga masyarakat sebagai media untuk membangunkan warga untuk bersantap sahur. Untuk lebih melestarikan kesenian Tongklek ini, para pemuda yang ada di Desa Brengkok, Kecamatan Brondong menggelar festival tongklek yang diikuti oleh tidak hanya masyarakat pantura Lamongan tapi juga masyarakat pantura Tuban.

"Kami ingin mengajak kaum muda untuk melestarikan salah satu budaya, yaitu kesenian tongklek yang memang akrab di tengah-tengah masyarakat Pantura," kata ketua panitia, Asfiyak Nur Akhlis kepada wartawan di sela-sela festival, Senin (27/5/2019).

Asfiyak menuturkan kesenian tongklek dahulunya hanya kesenian yang ditampilkan atau dipertontonkan ketika bulan Ramadhan, yaitu sebagai media untuk membangunkan warga bersantap sahur. Kini, lanjut Asfiyak, tongklek telah bertransformasi menjadi jenis kesenian yang bisa ditemukan di kegiatan hajatan, event khusus bahkan pagelaran yang diadakan di tingkat Kabupaten.

"Kami ingin mengajak kembali para pemuda untuk terus merawat budaya tongklek ini. Kami ingin mengajak kaum melenial khususnya agar mengerti tentang budaya khas Indonesia," ujar Asfiyak.

Lebih jauh, Asfiyak mengungkapkan kesenian Tongklek adalah seni musik tradisional yang dimainkan oleh sekelompok orang yang terdiri dari berbagai alat musik sederhana seperti musik patrol dan alat musik seadanya lain. Beberapa alat musik yang digunakan tersebut, lanjut Asfiyak, diantaranya adalah kentongan, perabotan rumah tangga seadanya seperti bak, ember, galon, serta peralatan lain.


Foto: Eko Sudjarwo


"Alat musik yang utama biasanya adalah kentongan, yang kemudian ditambahi alat lain seadanya seperti galon air, bak, ember atau lainnya, yang penting bisa berbunyi," paparnya.

Asfiyak juga menjelaskan asal kata Tongklek yang menjadi istilah untuk kesenian rakyat ini. Asfiyak mengaku, kata Tongklek diambil dari bunyi alat musik kentongan yang jika dipukul pada bagian tengah yang ada lubangnya maka kentongan akan berbunyi "Tong". Jika dipukul pada bagian bawah atau di ruas bambu akam terdengar bunyi "Klek". "Itulah mengapa seni musik tradisional ini dinamakan Tongklek," ungkap Asfiyak.

Menurut Asfiyak, selain bisa menikmati seni musim tradisional Tongklek, festival yang digelar di sepanjang jalan desa Brengkok ini juga merupakan ajang silaturahmi bagi para pemuda dan antar sesama masyarakat yang tadinya jarang ketemu bisa terus berinteraksi dengan tetangga.

Mengambil rute start dari halaman gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI), setempat untuk kemudian berjalan keliling desa, acara ini dimulai dengan terlebih dahulu menabuh gong sebagai penanda dimulainya acara.
"Semoga kegiatan ini dapat menghibur masyarakat serta pemuda lebih menyukai tongklek dan festival ini juga kita harapkan dapat menyambung tali silaturahmi antar sesama," imbuhnya.

Festival Tongklek ini sendiri tak hanya diikuti oleh peserta dari Kecamatan Brondong, Paciran dan beberapa kecamatan di Lamongan lainnya saja, Namun sejumlah tik Tongklek dari Kabupaten Tuban juga nampak ikut memeriahkan festival kesenian ini.

"Selain dari Lamongan sendiri, juga ada dari Tuban yang ikit memeriahkan acara," pungkasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed