DetikNews
Minggu 26 Mei 2019, 16:03 WIB

Duarr...Serunya Bocah Ponorogo Main Bontosan Saat Ngabuburit

Charoline Pebrianti - detikNews
Duarr...Serunya Bocah Ponorogo Main Bontosan Saat Ngabuburit Anak-anak di Ponorogo ngabuburit dengan bermain Bontosan (Foto: Charoline Pebrianti)
Ponorogo - Menghabiskan waktu menunggu bedug magrib dimanfaatkan anak-anak Desa Paringan, Kecamatan Jenangan untuk ngabuburit dengan bermain meriam bumbung di tengah sawah. Masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan bontosan.

Terbuat dari batang bambu yang sudah dipotong tiap 1 meter, anak-anak ini nampak antusias bermain. Langkah pertama, membuat lubang di setiap ruas bambu dengan menggunakan linggis. Selanjutnya, di bagian pangkal diberi ruang untuk menaruh bubuk petasan atau karbit. Tak lupa diberi lubang sebesar ibu jari.

Bahan-bahan yang harus disiapkan untuk permainan tradisional ini adalah menyiapkan seember air, kain yang dibasahi solar, karbit yang telah dipotongi kecil-kecil serta yang paling penting adalah keberanian saat menyalakan bontosan.

"Caranya air dimasukkan ke ujung bambu hingga ke pangkal bambu, setelah itu digulingkan dengan posisi miring lalu dimasukkan karbit di ujung bambu," tutur salah satu anak Bagus Sulaiman saat ditemui detikcom di lokasi, Sabtu (25/5/2019).

Selang beberapa saat terdengar bunyi dentuman seperti meriam 'duarrr'. Seketika bunyi tersebut memekakkan telinga bagi siapa saja yang berada didekat bontosan. Oleh sebab itu, mereka memilih bermain bontosan di tengah sawah.


Foto: Charoline Pebrianti


"Makanya kalau main bontosan dibawa ke sawah biar nggak mengganggu warga," terang dia.

Bagus tidak sendirian, dia bersama empat orang temannya secara bergantian bermain bontosan. Tak jarang mereka terlihat memegang telinga saat bontosan berbunyi sembari tersenyum bangga usai bontosan yang mereka buat ternyata berhasil. Kegiatan ini rutin mereka lakukan di bulan puasa, alasannya ingin ngabuburit ala anak desa.

"Ngabuburitnya pakai bontosan, seru apalagi sama teman-teman lain," jelasnya.

Bagus mengaku permainan ini memang sudah mulai ditinggalkan, selain suaranya yang membuat bising, keterampilan seperti ini jarang dimiliki oleh anak-anak jaman sekarang. Mereka lebih memilih membeli kembang api.

"Jika dulu, tidak menggunakan karbit, tapi minyak tanah, karena minyak tanah sudah langka jadi digunakan karbit," pungkasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed