DetikNews
Jumat 24 Mei 2019, 12:53 WIB

Legitnya Sengkulun, Kudapan Teman Buka Puasa Khas Pacitan

Purwo S - detikNews
Legitnya Sengkulun, Kudapan Teman Buka Puasa Khas Pacitan Kue sengkulun khas Pacitan/Foto: Purwo S
Pacitan - Bagi penyuka jajanan tradisional, menu yang satu ini cocok dijadikan kudapan saat buka puasa Ramadhan. Namanya 'Sengkulun'.

Bertopping merah muda, penganan berbahan baku ketan ini tampak makin menggugah selera. Cara membuatnya tak begitu sulit. Tepung ketan dicampur dengan kelapa parutan. Lalu diaduk hingga rata. Komposisinya 1 dibanding 1. Perbandingan itu penting. Sebab jika campuran tidak tepat hasil akhirnya meleset dari harapan.

"Kalau kebanyakan tepungnya nanti jadi lengket. Sebaliknya kalau kebanyakan kelapa, adonannya buyar," ucap Asmawi (49) pembuat Sengkulun saat ditemui detikcom di rumahnya, Jl Agus Salim, Jumat (24/5/2019).

Setelah diperoleh campuran yang ideal, adonan lalu ditaburi gula. Tentu saja porsinya menyesuaikan selera. Adonan lalu diaduk lagi hingga merata. Untuk menambah cita rasa biasanya ditambahkan garam dan sedikit vanili.

Langkah berikutnya, adonan berwarna putih itu dimasukkan ke dalam loyang. Bagian bawahnya dilapisi daun pisang. Asmawi memilih loyang ukuran 28 x 28 centimeter. Tujuannya agar muat saat dimasukkan panci untuk mengukus.


Setelah bahan berada di dalam loyang, permukaannya harus dibuat rata. Apakah adonan bisa langsung dikukus? Ternyata belum. Bagian atasnya masih harus diberi topping. Bahannya berupa campuran kelapa parutan, sedikit tepung ketan, dan pewarna makanan merah muda.

"Dulu pernah kita coba pakai warna lain. Ternyata konsumen nggak terlalu suka. Ciri khasnya Sengkulun memang warna pink," ungkap Zuhrotul Mardhiyah (52), istri Asmawi sembari menaburkan topping ke atas adonan.

Tak lama berselang, ibu dua anak itu lantas mengangkat loyang dan meletakkannya di atas sarangan panci dengan air mendidih di bawahnya. Proses mengukus itu berlangsung selama 1 jam.
Pedagang kue sengkulun/Foto: Purwo S
Setelah dipastikan matang, loyang langsung diangkat. Lapisan daun pisang yang diletakkan di bagian bawah membuat sengkulun lebih mudah dilepaskan dari media berbahan aluminium tersebut.

Masih ada satu langkah lagi untuk menghasilkan sengkulun siap saji. Makanan dengan tekstur kenyal itu harus diiris kecil-kecil. Kira-kira berukuran 3 x 4 centimeter. Untuk menambah nilai estetika, kadang irisan dibuat berbentuk belah ketupat.

"Begitu sudah matang nggak boleh langsung diiris. Tapi harus didiamkan semalam. Karena kalau kondisi panas langsung diiris biasanya lengket," terang Mardhiyah.


Pasangan suami istri tersebut mengaku menekuni bisnis sengkulun sejak 2010. Awalnya industri rumah tangga itu dijalankan sekadar meneruskan warisan orang tua. Namun begitu mencoba, mereka pun menjadikannya sarana pendulang rezeki.

Kini sengkulun bikinan keluarga Asmawi sudah merambah pasar jajanan di Kota 1001 Gua. Awal Ramadhan merupakan menjadi berkah tersendiri bagi mereka. Tingginya permintaan pasar memaksanya kerja ekstra. Bahkan sehari bisa menjual hingga 7 loyang.

Permintaan biasanya kembali meningkat pascalebaran. Ini karena banyaknya pemudik yang berburu jajanan tradisional. Saat lain yang dinanti Asmawi dan istrinya adalah bulan baik dalam penanggalan Jawa. Warga kerap memesan sengkulun untuk kue hantaran pernikahan.

"Untuk kue hantaran pengantin kemasannya kita buat beda. Jadi ditaruh di dalam mika terus diberi hiasan," imbuh Asmawi.

Sengkulun sangat mudah ditemukan di kios-kios jajanan. Harganya pun sangat terjangkau. Tiap potong sengkulun dapat dibeli seharga Rp 1.500,00. Penasaran? Sebaiknya datang ke pasar lebih awal. Supaya tidak kehabisan.


Simak Juga 'Buka Puasa dengan Non Muslim, Boleh Nggak Ya?':

[Gambas:Video 20detik]


(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed