DetikNews
Jumat 24 Mei 2019, 12:21 WIB

Legendaris, Cerita Masjid Duwur Jadi Sentra Perkembangan Islam di Ponorogo

Charoline Pebrianti - detikNews
Legendaris, Cerita Masjid Duwur Jadi Sentra Perkembangan Islam di Ponorogo Masjid Duwur (Foto: Charoline Pebrianti)
Ponorogo - Azan berkumandang lantang. Sejumlah jemaah pria tampak bergegas menuju Masjid Duwur. Kebetulan hari ini hari Jumat, otomatis jemaah pria membludak sebab ingin melaksanakan ibadah salat Jumat di masjid yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta ini.

Masjid Duwur ini sebenarnya bernama Masjid Darul Hikmah. Nama Darul Hikmah disematkan oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Namun masjid yang berdiri sejak tahun 1938 silam ini lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Masjid Duwur. Alasannya, saat itu hanya masjid ini yang memiliki 2 lantai sehingga terlihat duwur (tinggi).

Masjid ini memiliki nilai historis dan berkaitan erat dengan perkembangan organisasi Islam Muhammadiyah di Bumi Reyog. Sekaligus menjadi pusat kegiatan keagamaan serta pendidikan.


Ketua Takmir Masjid Darul Hikmah Baddrudin menjelaskan masjid ini sudah melalui empat kali pemugaran. Namun tiap pemugaran tidak merubah bentuk asli bangunan masjid.

"Di bagian depan masjid, jemaah langsung disambut 29 anak tangga. Sehingga dari luar kelihatan tinggi, masyarakat biasa menyebutnya duwur," tutur Baddrudin saat ditemui detikcom di lokasi, Jumat (24/5/2019).

Baddrudin menambahkan dari luar bangunan masjid tersebut tampak kokoh. Dinding berupa dua susun batu-bata menandakan masjid tersebut merupakan bangunan lawas. Sementara di sebelah selatan dan utara terdapat jendela berderet. Seluruh pintu jendela siang itu terbuka semua. Jarak antara satu jendela dengan yang lain tidak lebih dari satu meter.

Perkembangan organisasi Islam Muhammadiyah di Ponorogo tidak terlepas dari historis pendirian Masjid Darul Hikmah. Masjid yang lebih dikenal dengan nama Masjid Duwur itu didirikan pada 1938 lalu. Menggunakan tanah wakaf dari RM Mintarjo, seorang pejabat pemerintah, sederet tokoh seperti Karso Diwiryo, Ali Diwiryo, Kaslar, dan Sumo Diwiryo menjadi tokoh penting di balik pendirian masjid tersebut. Bangunan masjid pertama didirikan seukuran 20x11 meter memiliki lantai dua.


"Sejak berdiri seluruh sentral kegiatan dipusatkan di masjid tersebut," terang dia.

Usai dibangun, masjid tersebut menjadi sentral kegiatan. Mulai tempat ibadah, hingga pendidikan. Bahkan masjid tersebut juga digunakan untuk sekolah tingkat dasar dan Pendidikan Guru Agama (PGA).

Kegiatan yang masih lestari di antaranya kajian malam Kamis dan malam Ahad, kajian usai salat Subuh, pengajian ibu-ibu Jumat pagi, santunan peduli umat tiap selasa sore, tartil tahsin Quran tiap malam Selasa, Rabu, Kamis, dan usai Shubuh, serta kegiatan lain di bulan Ramadan. Seperti salat tawarih, tadarus, buka dan sahur bersama.

"Saat ini proses renovasi masih terus dilakukan demi kenyamanan jamaah," pungkas dia.


Simak Juga 'Melihat Alquran Raksasa di Masjid Raya Makassar':

[Gambas:Video 20detik]


(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed