DetikNews
Kamis 25 April 2019, 18:18 WIB

Satu Caleg Demokrat Dapil Malang Diperiksa Bawaslu Soal Money Politics

Muhammad Aminudin - detikNews
Satu Caleg Demokrat Dapil Malang Diperiksa Bawaslu Soal Money Politics Caleg DPR RI dari Partai Demokrat, Nurseto Budi Santoso (kanan)/Foto: Muhammad Aminudin
Malang - Caleg DPR RI dari Partai Demokrat dapil Malang Raya Nurseto Budi Santoso memenuhi undangan Bawaslu Kabupaten Malang. Nurseto dihadirkan untuk klarifikasi terkait dugaan money politics di wilayah Turen sebelum pencoblosan.

Nurseta hadir di kantor Panwascam Turen sekitar pukul 13.25 WIB. Ia sudah ditunggu Divisi Penindakan Bawaslu George Da Silva beserta petugas Panwascam Turen.

Setelah satu jam memberikan klarifikasi, Nurseto mengatakan jika dirinya bukan datang untuk memenuhi panggilan. Melainkan undangan dari Panwascam Turen.

"Bisa saya tegaskan, datang ke sini (Panwascam) untuk memenuhi undangan. Tidak hadir sebenarnya tak masalah, tetapi karena saya warga negara menaati dan menghormati hukum, saya memilih untuk datang. Tujuannya apa, memberikan klarifikasi terkait temuan pengawas," ujar Nurseto di Panwascam Turen, Jalan Panglima Sudirman, Kabupaten Malang, Kamis (25/4/2019).


Ditanya soal dugaan money politics berdasarkan temuan Panwascam Turen, Nurseto tidak pernah membayangkan persoalan itu akan menjerat dirinya. Bahkan ia mengaku tidak mengenal Juwita, perempuan yang tertangkap basah membagikan amplop di masa tenang Pemilu 2019.

"Saya baru tahu namanya ya tadi. Gak kenal siapa dia itu. Jika begitu kok bisa nama saya tercatut," imbuh Nurseto.

Dia justru menanyakan dari mana asal-usul uang tersebut dan siapa pihak yang menggerakkan Juwita. "Saya sudah 365 hari di Malang Raya, jika memang berniat begitu (money politics) uang dari mana. Dan bagaimana saya menggunakan orang yang tidak pernah saya kenal, itu sangat tidak mungkin," tambah caleg nomor urut 3 itu.

Kemudian George Da Silva mengatakan, ada 20 pertanyaan yang diajukan pengawas kepada Nurseto, dalam proses klarifikasi dugaan money politics.

"Tadi ada sekitar 20 pertanyaan. Kami tidak bisa membeberkan karena menyangkut penanganan perkara. Nanti jika diperlukan akan dipanggil lagi," ujar George terpisah.


Selain itu ia juga menyampaikan, untuk pelaku Juwita sudah dijadwalkan pemanggilan kembali. Begitu juga dengan Tono Caleg nomor 1 dari Partai Demokrat untuk DPRD Kabupaten Malang. Tono tidak hadir dalam pemanggilan hari ini.

"Untuk Tono, informasi kami dapatkan dari Ketua DPRD Kabupaten Malang tengah mengikuti kunker ke luar kota. Karena Tono ini adalah anggota DPRD Kabupaten Malang yang kembali maju di Pileg 2019 dari Partai Demokrat," papar George.

Tono merupakan caleg DPRD Kabupaten Malang daerah pilihan II yang meliputi wilayah Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit dan Turen. Sementara Nurseto Dapil V meliputi wilayah Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu.

Pihak-pihak yang terlibat dengan perkara ini bisa terjerat Undang-Undang (UU) Pemilu Nomor 7 Tahun 2017. Yakni Pasal 523 ayat (2) juncto Pasal 278 ayat (2). Bahwa selama masa tenang Pemilu, pelaksana, peserta, atau tim sukses atau kampanye dilarang menjanjikan atau memberikan imbalan kepada pemilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya, memilih pasangan calon, memilih partai politik peserta Pemilu tertentu, dan memilih calon anggota DPR/DPRD/DPD tertentu. Jika mereka melanggar, maka akan diberi sanksi yang ancamannya penjara paling lama 4 tahun kurungan penjara, dan denda paling besar Rp 48 juta.
(sun/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed