DetikNews
Selasa 23 April 2019, 17:49 WIB

Begini Seharusnya Layanan Rujukan yang Aman Bagi Penderita Gangguan Jiwa

Adhar Muttaqin - detikNews
Begini Seharusnya Layanan Rujukan yang Aman Bagi Penderita Gangguan Jiwa Kabid Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung/Foto: Adhar Muttaqin
Tulungagung - Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung menyayangkan tewasnya seorang pasien ganguan jiwa saat dirujuk ke tempat pengobatan kejiwaan. Proses rujukan biasanya harus mempertimbangkan berbagai aspek.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Tulungagung, Ana Sapti Saripah, mengatakan dalam penjemputan pasien jiwa petugas harus mengetahui kondisi pasien apakah agresif atau tidak.

Bila pasien tidak agresif, maka yang dibutuhkan adalah pendekatan terhadap pasien langsung maupun melalui orang terdekat.


"Tapi apabila pasien itu agresif memang perlu pendekatan yang berbeda. Bisa saja pasien itu diikat, namun proses mengikat ini tidak boleh membahayakan nyawa pasien maupun petugas," kata Ana S Saripah saat dikonfirmasi detikcom di kantornya, Selasa (23/4/2019).

Saat proses rujukan ke rumah sakit jiwa belangsung, pasien harus mendapat pendampingan dari pihak keluarga atau orang yang bertanggung jawab atas pasien tersebut. Selain itu dalam mobil juga harus ada petugas medis.

"Kalau untuk jenis mobil memang tidak harus ambulan, bisa saja pakai mobil pribadi, tali harus melihat kondisi pasien. Beberapa waktu lalu kami merujuk pasien jiwa jumlah banyak dengan bus," imbuhnya.


Disinggung terkait pemberian suntikan pada pasien jiwa, Ana mengaku justru tidak diperlukan, karena pemberian injeksi berupa obat penenang justru akan mempengaruhi terhadap pemeriksaan kesehatan di rumah sakit jiwa.

"Justru tidak boleh diberi obat, tujuannya agar diagnosa terhadap pasien saat di RSJ benar-benar tegak lurus, artinya tidak terpengaruh dengan obat-obatan lain. Bahkan dua hari sebelum dirujuk itu tidak diberi obat," jelasnya.

Beberapa hari sebelum meninggal, jelas dia, pihak puskesmas telah tiga kali mendatangi rumah Iwan untuk dilakukan penanganan dan rujukan.
"Dari keterangan puskesmas, petugas tiga kali ke situ, petugas datang dengan ambulan, tapi sampai lokasi pasien ketakutan dan lari bersembunyi. Kemudian datang lagi dia defense dan mengunci di kamar dengan membawa celurit," imbuhnya.
Akhirnya pihak puskesmas mengurungkan evakuasi pada Minggu siang dan rencananya akan kembali diupayakan evakuasi pada hari Senin. Namun pada sore harinya Iwan kambuh dan mengamuk hingga memukuli ibunya.
"Nah, kami tidak tahu kalau pada hari itu keluarga menghubungi orang di luar kami untuk membawa ke Malang, hingga akhirnya meninggal dunia itu," ujar Ana.


Iwan Guntoro pengidap gangguan jiwa asal Kaliwungu, Kecamatan Ngunut dilaporkan tewas saat dalam perjalanan ke Malang untuk menjalani pengobatan kejiwaan. Saat itu korban dalam posisi terborgol dan kedua kakinya diikat tali, korban juga aempat disuntik dua kali. Petugas evakuasi bukan dari rumah sakit jiwa.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed