DetikNews
Minggu 21 April 2019, 20:55 WIB

Berebut Berkah Air Perasan Kain Kafan Buyut Cungking di Tradisi Resik Lawon

Ardian Fanani - detikNews
Berebut Berkah Air Perasan Kain Kafan Buyut Cungking di Tradisi Resik Lawon Air perasan kain kafan diperebutkan warga ( Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Suku Using (suku khas Banyuwangi) di Lingkungan Cungking, Kecamatan Giri, Banyuwangi, menggelar tradisi unik. Tradisi itu bernama Resik Lawon.

Ritual yang sudah dilaksanakan masyarakat setempat sejak ratusan tahun lalu itu sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang dan pembersihan diri sebelum masuk bulan Ramadhan.

Resik lawon merupakan sebuah ritual mencuci dan mengganti kain kafan penutup petilasan Ki Buyut Cungking yang merupakan nenek moyang dari warga setempat.

Ritual diawali dengan melepas kain putih yang menutup cungkup di petilasan Ki Buyut Cungking. Sementara beberapa kain yang perlu diperbaiki juga dijahit ulang oleh warga secara swadaya.

Kemudian, kain-kain tersebut dibawa ke Sungai Banyu Gulung yang berada di Kelurahan Banjar sari, Kecamatan Glagah untuk dicuci. Kain kemudian dibilas dan diperas agar cepat kering. Menariknya, air perasan dari kain kafan tidak langsung dibuang, melainkan malah menjadi rebutan warga karena dipercaya bisa membawa berkah.

"Warga Cungking mempercayai kalau air perasan kain lawon (kafan) dari buyut ini bisa membawa berkah. Biasanya warga membawa botol sendiri dari rumah, kemudian airnya disimpan. Selain diminum, air bisa diusapkan ke bagian tubuh yang sakit. Ada pula warga yang menggunakan air ini untuk disiramkan ke sawah agar panennya bagus," ungkap Febri, pemuda asli Lingkungan Cungking kepada wartawan, Minggu (21/4/2019).


Kain kafan dijemur setinggi 5 meterKain kafan dijemur setinggi 5 meter Foto: Ardian Fanani


Setelah diperas, kain lawon atau kafan dengan panjang 100 meter lebih itu dijemur di sepanjang jalan desa dengan ketinggian lima meter. Kain diikat dengan tali tambang hitam yang dibentangkan pada bambu.

Salah satu syarat ritual tersebut adalah kain putih tidak boleh jatuh dan terkena tanah. Jika sudah mongering, kain tersebut diturunkan dan dibawa kembali ke balai tajuk yang ada di tengah-tengah Lingkungan Cungking.

"Bisa diistilahkan, Tradisi Resik Lawon ini merupakan ritual mengganti baju. Mengganti yang kotor untuk diganti dengan yang bersih. Apalagi ini kan sudah menjelang Ramadan. Diharapkan, sebelum datangnya Ramadan ini jiwa dan raga kita menjadi suci kembali," ujar Jam'i Abdul Gani, Ketua Adat Lingkungan Cungking.

Diharapkan dengan digelarnya ritual resik lawon ini masyarakat mendapatkan berkah dari doa-doa yang dipanjatkan selama ritual.

"Ini juga sebagai bentuk wujud syukur warga Cungking atas jasa dari buyut kami yakni Ki Buyut Cungking. Semua kegiatan kami lakukan secara swadaya dari warga," pungkasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed