DetikNews
Minggu 21 April 2019, 20:41 WIB

Tanggapi Situasi Politik Pascapemilu, Ini Imbauan Rektor Unair

Amir Baihaqi - detikNews
Tanggapi Situasi Politik Pascapemilu, Ini Imbauan Rektor Unair Rektor Unair Prof. Moh Nasih (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)
Surabaya - Rektor bersama ikatan alumni Universitas Airlangga (Unair) menyatakan imbauan terhadap perkembangan situasi politik pascapemilu 17 April 2019. Lalu apa saja imbauan tersebut?

Dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, ada 5 imbauan terkait perkembangan situasi pascapemilu. Surat tersebut ditandatangani oleh rektor M Nasih dan Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Alumni Unair.

Pada poin pertama, Unair memberikan apresiasinya kepada penyelenggara pemilu dan pemilih. Karena dengan kedewasaan sikap mereka, pemilu 2019 terselenggara dengan damai dan lancar.

"Adanya beberapa kekurangan tentu dapat dipahami dan tidak mengurangi terima kasih kami mengingat Indonesia yang demikian besar," kata M Nasih dalam keterangan resminya, Minggu (21/4/2019).


Selanjutnya, pihak Unair juga mengajak semua pihak agar bisa menghargai dan menghormati setiap pilihan individu. Karena dengan begitu akan mampu menjaga perasaan yang berbeda pilihan.

"Mengajak semua pihak untuk benar-benar menghargai dan menghormati suara dan pilihan rakyat, baik yang sama maupun yang berbeda pilihan serta menjaga perasaan mereka," lanjutnya.

Sedangkan untuk klaim kemenangan, pada poin ketiga, pihak Unair mengajak untuk tidak saling melontarkan kemenangan sampai rekapitulasi akhir dari KPU. Sebab hal itu telah disepakati bersama yang berlandaskan dengan UU Pemilu nomor 7 tahun 2017.

"Menghentikan pernyataan/klaim kemenangan sepihak, serta menyerahkan, mempercayakan, dan mengakui proses lanjutan rekapitulasi suara oleh KPU sesuai dengan peraturan, ketentuan,
dan mekanisme yang telah ditentukan dan disepakati semua Pihak jauh hari sebelum Pemilu berlangsung sesuai dengan UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017," terang Nasih.

Adapun poin keempat, semua pihak diimbau agar tidak menyebarkan informasi, analisis dan data tanpa bukti yang sah. Karena hal itu akan menciptakan potensi kegaduhan dan perpecahan serta mendelegitimasi penyelenggara pemilu dalam hal ini KPU.


"Tidak menyebarkan informasi, analisis, dan data tanpa bukti yang sahih dan terverifikasi yang berpotensi untuk menciptakan kegaduhan dan perpecahan serta mendelegitimasi KPU dan Bawaslu sebagai Lembaga yang dipercaya untuk menyelenggarakan pemilu," imbaunya.

Terakhir, Unair mengajak untuk menjaga persatuan antar sesama warga dan tidak saling membalas tindakan permusuhan.

"Menjaga kedamaian dan persatuan sesama warga bangsa dengan tidak melakukan tindakan permusuhan serta memancing respon balik atau reaksi dari pihak-pihak yang tidak sepilihan dan sependapat," pungkas Nasih.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed